KOHESI DAN KOHERENSI
Oleh: Sulistriani (156047) / 2015 A
A. Pendahuluan
Keterampilan dalam
berbahasa memiliki empat komponen yang saling berkaitan antara yang satu dengan
yang lainnya. Keempat komponen tersebut
adalah keterampilan Menyimak, keterampilan berbicara, keterampilan membaca
serta keterampilan menulis (Nida, 1957:19; Haris,1977:9; Tarigan,1981:1).
Komponen-komponen tersebut sangat mempengaruhi keterampilan berbahasa pada diri
seseorang sehingga perlu baginya untuk mempelajari setiap komponen agar
memiliki kemampuan berbahasa yang baik. Salah satu komponen yang terpenting
dalam pembelajaran bahasa ini adalah keterampilan menulis. Keterampilan ini
pada tata urutan komponen pembelajaran menempati urutan terakhir atau yang
teratas karena memiliki tingkat kesulitan yang lebih tinggi dari komponen
pembelajaran bahasa yang lain.
Alasan
dalam membuat essai makalah yang berjudul “Kohesi dan koherensi” yakni
seseorang dalam memahami sebuah wacana tidak hanya cukup mengetahui
pengertiannya saja, akan tetapi juga memahami sebuah piranti kohesi dan
koherensi. Untuk itu, Tujuan penulisan ini yakni dapat dijadikan sebagai bahan
referensi bagi si pembaca dalam mengkaji sebuah wacana.
B. Kajian Teori
1. Definisi
A. Pengertian Kohesi dan Koherensi
1. Kohesi
Kohesi merupakan aspek formal bahasa dalam wacana. Dengan demikian,
jelaslah bahwa kohesi merupakan organisasi sintaktik, merupakan wadah
kalimat-kalimat disusun secara padu dan padat untuk menghasilkan tuturan. Hal
ini berarti bahwa kohesi adalah hubungan antar kalimat dalam sebuah wacana,
baik dalam strata gramatikal maupun dalam strata leksikal tertentu (Gutwinsky,
1976 : 26)
Haliday dan Hassan dalam Bambang
Hartono (2000:145) mengungkapkan bahwa kohesi merupakan konsep makna yang
mengacu pada hubungan makna di dalam suatu wacana. Kohesi adalah kesatuan
semantis antara satu ujaran dengan ujaran lainnya dalam suatu wacana. Kohesi
adalah hubungan antarkalimat di dalam sebuah wacana baik dalam skala gramatikal
maupun skala leksikal tertentu.
Kohesi memiliki
pengertian yaitu hubungan antarkalimat dalam sebuah wacana, baik dalam strata
gramatikal maupun dalam strata leksikal tertentu (Gutwinsky, 1976 : 26 dalam
Tarigan, 2009 : 93). Untuk dapat memahami wacana dengan baik, diperlukan
pengetahuan dan penguasaan kohesi yang baik pula, yang tidak saja bergantung
pada pengetahuan kita tentang kaidah-kaidah bahasa, tetapi juga kepada
pengetahuan kita mengetahui realitas, pengetahuan kita dalam proses penalaran,
yang disebut penyimpulan sintaktik (Van de Velde, 1984 : 6 dalam Tarigam, 2009
: 93). Kita dapat mengatakan bahwa suatu teks atrau wacana benar-benar bersifat
kohesif apabila terdapat kesesuaian secara bentuk bahasa terhadap konteks
(Tarigan, 2009 : 93).
Jadi, dapat disimpulkan bahwa kohesi dapat diartikan sebagai keserasian hubungan antar unsur yang satu dengan unsur yang lain dalam
wacana. Kohesi mengacu pada aspek bentuk atau aspek formal bahasa, dan wacana
itu terdiri dari kalimat-kalimat.
Khusus untuk bahasa Inggris, dua orang pakar-Halliday dan Hasan tahun
1976 telah mengemukakan sarana-sarana kohesif yang terperinci dalam karya
mereka yang berjudul Cohesion in English. Mereka mengelompokkan sarana-sarana
kohesif itu ke dalam lima kategori, yaitu :
a. Pronominal
(kata ganti)
Pronomina atau kata ganti terdiri atas kata ganti diri, kata ganti
penunjuk, dan lain-lain. Kata ganti diri dalam bahasa Indonesia adalah :
a. saya,
aku, kita, kami
b. engkau,
kamu, kau, kalian, anda
c. dia,
mereka.
Penggunaan kata
ganti diri di atas dapat kita lihat dan baca pada contoh berikut ini :
1. Kata
ganti penunjuk dalam bahasa Indonesia adalah ini,
itu, sini, situ, sana, di sini, di situ, di sana, ke sini, ke situ, ke sana. Contoh
kalimat ;
“Ini
rumah kami. Kami tinggal di sini sejak tahun 1962. Tamu-tamu dari
Sumatra sering datang ke sini dan menginap beberapa lama di sini.”
2. Kata
ganti empunya dalam bahasa Indonesia adalah –ku,
-mu, -nya, kami, kamu, kalian, mereka. Bentuk-bentuk –ku, -mu, -nya, disebut juga bentuk enklitis.
Berikut ini contoh kalimatnya ;
“Anakmu
kuliah dimana? Anak kami sama-sama kuliah di Universitas Indonesia. Kita
semua tentu menginginkan agar anak kita menjadi orang kelak. Bagaimana dngan
teman-teman kita, di mana anak mereka belajar sekarang? Anak mereka ada
yang belajar di Sumater, ada yang di Jawa, bahkan ada yang telah bekerja dan
berumah tangga.”
3. Kata
ganti penanya dalam bahasa Indonesia adalah apa,
siapa, mana. Contoh kalimat ;
“Apa
yang kamu cari di sini?
Siapa
yang kamu pilih menjadi temanmu hidup? Pikirkanlah baik-baik hal ini, supaya
jangan menyeasal di kemudian hari. Apakah kamu menyadari untuk apa dan untuk
siapa kamu bekerja keras.
Mana
yang kamu pilih, kekayaan atau ketentraman hidup? Atau keduanya?”
4. Kata
ganti penghubung dalam bahasa Indonesia
adalah yang, seperti. Contoh kalimat ;
“Kita
hidup bermasyarakat, hidup tolong-menolong, yang pintar mengajari yangbodoh
;yang kaya menolong yang miskin ; yang melek memimpin yang
buta, yang kuat melindungi yang lemah. Masyarakat yang
berpedomankan pancasila tentu hidup rukun dan tentram.”
5. Kata
ganti tak tentu dalam bahasa Indonesia adalah siapa-siapa,
masing-masing, sesuatu seseorang, para. Contoh kalimat ;
“Siapa-siapa
yang turut berdarmawisata ke Pantai Pangandaran ditentukan oleh Kepala sekolah
kami. Kepada para pengikut diberikan sesuatu yang sangat
menggembirakan. Selain tidak dipungut biaya kepada masing-masing
pengikut diberi uang saku sepuluh ribu rupiah. Sesuatu yang diharapkan
dari seseorang selama ini telah menjadi kenyataan. Tidak ada yang lebih
menggembirakan hati seseorang selain dari pada memperoleh apa-apa
yang diharapkan dan dicita-citakan sebelumnya. “pucuk dicinta, ulam tiba” kata
pepatah orang tua kita, bukan?”
b. Substitusi
(penggantian)
Susbtitusi
adalah proses atau hasil penggantian unsure bahasa oleh unsur lain dalam satuan
yang lebih besar untuk memperoleh unsur-unsur pembeda atau untuk menjelaskan
suatu struktur tertentu. (Kridalaksana, 1984 : 185).
Susbtitusi
merupakan hubungan gramatikal, lebih bersifat hubungan kata dan makna.
Substitusi dalam bahasa Indonesia dapat bersifat nominal, verbal, klausal,atau
campuran ; misalnya satu, sama, seperti itu, sedemikian rupa, demikian,
begitu, melakukan hal yang sama.
c. Ellipsis
Elipsis
adalah peniadaan kata atau satuan lain yang wujudnya asalnya dapat diramalkan
dari konteks bahasa atau konteks luar bahasa (Kridalaksana, 1984 : 45). Elipsis
dapat pula dikatakan penggantian nol (zero); sesuatu yang ada tetapi
tidak diucapkan atau tidak dituliskan. Hal ini dilakukan demi kepraktisan.
Elipsis pun dapat pula dibedakan atas elipsis nominal, ellipsis verbal,
ellipsis klausal
d. konjungsi
Konjugsi adalah yang dipergunakan untuk menggabungkan kata dengan kata,
frase dengan frase. Klausa dengan klausa, kalimat dengan kalimat, atau paragraf
dengan paragraf (Kridalaksana, 1984 : 105).Konjugsi dalam bahasa Indonesia
dapat dikelompokkan atas :
a. Konjugsi
adversatif : tetapi, namun
b. Konjugsi
klausal : sebab, karena
c. Konjugsi
koordinatif : dan, atau tetapi
d. Konjugsi
korelatif : entah/entah, baik/maupun
e. Konjugsi
subordinatif : meskipun, kalau,
bahwa
f. Konjugsi
temporal : sebelum, sesudah
e. leksikal
Leksikal diperoleh dengan cara memilih kosakata yang serasi. Ada beberapa
cara untuk mencapai aspek leksikal kohesi ini, antara lain :
a. Pengulangan
(repetisi) kata yang sama : pemuda-pemuda
b. Sinonim : pahlawan-pejuang
c. Antonim : putra-putri
d. Hiponim : angkutan darat-kereta api, bis
e. Kolokasi : buku, koran, majalah-media massa
f. Ekuivalensi : belajar, mengajar, pelajar, pengajar,
pengajaran
2. Koherensi
Dalam sebuah kamus besar, dapat
dibaca keterangan mengenai koherensi sebagai berikut :
1. kohesi :
perbuatan atau keadaan menghubungkan, mempertalikan
2. koneksi
: hubungan yang cocok dan sesuai atau ketergantungan satu sama lain yang rapi,
beranjak dari hubungan alamiah
bagian-bagian atau hal-hal satu sama lain, seperti dalam bagian wacana, atau
argumen suatu rentetan penalaran (Webster, 1983 : 352)
Dari pengertian yang terter pada kamus tersebut, dapat dilihat bahwa
tidak terlihat perbedaan nyata antara koherensi dan kohesi. Oleh
sebab itu, tidak usah heran bahwa dalam sejumlah buku pengertian kedua istilah
ini sering disamakan, dipertukarkan pemakainnya. Namun, berusahamembedakannya,
sekalipun kita mengetahui bahwa keduanya saling menunjang, saling berkaitan.
Ada pakar yang mengutarakan bahwa koherensi adalah pengaturan
secara rapikenyataan dan gagasan, fakta dan ide menjadi suatu untaian yang
logis sehingga mudah mema hami pesan yang dikandungnya (Wohl, 1978 :25) bila
kit menerima bahwa wacana ideal terdiri atas kalimat-kalimat, bahkan
paragraf-paragraf, maka kita pun dapat mengerti bahwa untuk mencapai
kekoherensifan yang mantap dibutuhkan pemarkah koherensif atau pemarkah
transisi.
Koherensi adalah pertalian atau jalinan antar kata, atau kalimat dalam
teks. Dua buah kalimat yang menggambarkan fakta yang berbeda dapat dihubungkan
sehingga tampak koheren. Sehingga fakta yang tidak terhubungkan sekalipun dapat
menjadi berhubungan ketika seseorang menghubungkannya.
Koherensi merupakan elmen wacana untuk melihat bagaimana seseorang secara
strategis menggunakan wacana untuk menjelaskan suatu fakta atau peristiwa.
Apakah peristiwa itu dipandang saling terpisah, berhubungan, atau malah sebab
akibat. Pilihan-pilihan mana yang diambil ditentukan oleh sejauh mana
kepentingan komunikator terhadap peristiwa tersebut.
|
Kata hubung “dan”
|
Demonstrasi mahasiswa
marak dan nilai tukar rupiah melemah. Di mana-mana mahasiswa turun ke jalan.
Kemarin, nilai tukar rupiah melemah ke posisi 8.500 per USS. Ini nilai tukar
rupiah yang terrendah dalam sebulan terakhir.
|
|
Kata hubung “akibat”
|
Maraknya demonstrasi
mahasiswa menyebabkan nilai tukar rupiah melemah. Kemarin nilai tukar rupiah
mencapai 8.500 per USS. Ini nilai tukar rupiah yang terrendah dalam sebulan
terakhir.
|
Koherensi ini secara mudah dapat siamati di antaranya dari kata hubung
(konjugsi) yang dipakai untuk menghubungkan fakta. Apakah dua kalimat dipandang
sebagai hubungan klausal (sebab akibat), hubungan keadaan, waktu, kondisi, dan
sebagainya. Misalnya pernyataan, “lima mahasiswa Trisakti tewas akibat bentrok
dengan aparat keamanan”. Di sini ada dua kalimat yaitu “mahasiswa yang tewas”
dan “mahasiswa bentrok dengan aparat keamanan”. Kedua kalimat tersebut
dihubungkan sebagai sebab akibat (ditandai dengan kata hubung “akibat”).
Kalimat di atas akan mempunyai makna lain ketika dihungkan dengan anak kalimat
lain seperti, “mahasiswa bentrok dengan aparat keamanan dan 5 mahasiswa Trisakti
tewas”- mengesankan bahwa terbunuhnya mahasiswa Trisakti tersebut bukan
semata-mata kesalahan aparat keamanan. Kata hubung (konjugsi) yang dipakai
(dan, akibat, tetapi,lalu, karena, meskipun) menyebabkan makna yang berlainan
ketika hendak menghubungkan kalimat koherensi memberikan kesan kepada khalayak
bagaimana dua fakta diabstraksikan dan dihubungkan. Misalnya dalam peristiwa
penjarahan massal. Pemakaian kata hubung, seperti : “karena tingkat pendidikan
mereka rendah” dapat memberi kesan bahwa rendahnya pendidikanlah yang
menyebabkan mereka melakukan penjarahan.
Koherensi merupakan elmen yang menggambarkan bagaimana peristiwa
dihubungkan atau dipandang saling terpisah oleh wartawan. Misalnya ada
peristiwa pengumuman status Soeharto oleh Kejaksaan Agung yang statusnya
menjadi tersangka, sementara di Ambon konflik pecah kembali setelah sebelumnya
sempat dalam kondisi damai. Di siniada dua peristiwa, yang satu ada di Jakarta,
yang lain di Ambon. Bagaimana dua peristiwa itu dipandang oleh wartawan? Apakah
dua peristiwa tersebut dipandang sebagai peristiwa terpisah? Ataukah saling
berhubungan? Kalau berhubungan , bagaimana bentuk hubungannya? Apakah yang satu
menyebabkan yang lain, ataukah yang satu diakibatkan oleh yang lain? Kita bisa
menganalisis bagaimana peristiwa yang carut-marut dan kompleks tersebut dari
koherensi yang dipakai oleh wartawan. Kalau wartawan menganggap dua peristiwa
itu sebagai terpisah, maka dua peristiwa itu akan diberitakan secara berbeda,
dan tulisan yang berbeda pula. Kalau dua peristiwa itu dianggap sebagai
berhubungan, umumnya diletakkan dalam satu item berita dan kita bisa amati bagaimana hubungan itu diabstraksikan.
Menurut
F.J.D’Angelo 1980 (Tarigan 1987:101-) aneka sarana koherensi, antara lain ;
a. Sarana
penghubung yang bersifat aditif atau berupa penambahan yaitu; dan, juga,
lagi, pula. Contoh kalimat :
Laki-laki
dan perempuan, tua dan muda, juga para tamu turut bekerja
bergotong-royong menumpas hama tikus di sawah-sawah di desa kami. Selain dari
pada menyelamatkan tanaman, juga upaya itu akan meningkatkan hasil
panen.
b. Sarana
penghubung rentetan atau seri adalah pertama, kedua, berikut, kemudian,
selanjutnya, akhirnya. Contoh kalimat :
Pertama-tama
kita semua harus mendaftarkan diri sebagai anggota perkumpulan. Kedua,
kita membayar uang iuran. Berikutnya kita mengikuti segala kegiatan,
baik berupa latihan maupun kursus-kursus. Kemudian kita mengikuti ujia,
dan selanjutnya kalau lulus kita diterima sebagia anggota tetap.Akhirnya
kita diangkat menjadi penyuluh bagi masyarakat pedesaan dalam hal-hal praktis
mengenai kesehatan dan kesejahteraan keluarga.
c. Penggunaan
repetisi atau pengulangan kata sebagai sarana koherensif wacana. Contoh kalimat
:
Dia
mengatakan kepada saya bahwa kasih sayang itu berada dalam jiwa dan raga sang ibu.
Saya menerima kebenaran ucapan itu. Betapa tidak. Kasih sayang pertama saya
peroleh dari ibu saya. Ibu melahirkan saya. Ibu mengasuh
saya. Ibu menyusui saya. Ibu memandikan saya. Ibu menyuapi
saya. Ibu meninabobokan saya. Ibu mencintai dan mengasihi saya. Saya
tidak bisa melupakan jasa dan kasih sayang ibu saya seumur hidup.semoga ibu
panjang umur dilindungan Tuhan.
d. Kelas
ke anggota agak mirip dengan sarana koherensif wacana. Contoh kalimat :
Pemerintah
berupaya keras meningkatkan perhubungan darat, laut, dan udara. Dalam
bidang perhubungan darat telah digalakkan pemanfaatkan kereta api dan
kendaraanbermotor. Kendaraan bermotor meliputi mobil, speda motor,
dan lain-lain.
e. Sarana penekanan dapat pula menambah tingkat
kekoherensifan wacana terlihat pada contoh kalimat berikut ini :
Bekerja
bergotong royong itu bukan pekerjaan sia-sia. Nyatalah kini hasilnya.
Jembatan sepanjang tujuh kilometer yang menghubungkan kampong kita ini dengan
kampong di seberang Sungai Lau Biang ini telah sekali kita kerjakan AMD (Abri
masuk Desa). Jelaslah hubungan antar kedua kampong berjalan lebih
lancar.
f. Komperansi
atau perbandingan. Dapat menambah serta meningkatkan kekoherensifan wacana,
seperti contoh berikut ini :
Sama
halnya dengan paman Lukas, kita pun harus
segera mendirikan rumah di atas tanah yang baru kita beli itu. Sekarang rumah
Lukas itu baru selesai. Mengapa kita tidak membuat hal yang serupa
selekat mungkin? Kita juga sanggup berbuat hal yang sama takkan lebih dari
itu.
g. Kontras
atau pertentangan para penulis dapat menambah kekoherensian karyanya. Contoh
kalimat :
Aneh
tapi nyata. Ada teman saya seangkatan, namanya Joni. Dia rajin sekali belajar,
tetapi tentamen selalu tidak lulus. Harus mengulang namun demikian, dia tidak
pernah putus asa. Dia tenang saja. Tidak pernah mengeluh. Bahkan sebalinya, dia
semakin rajin belajar.
h. Hasil
atau simpulan dapat juga meningkatkan kekoherensifan wacana. Contoh kalimat :
Pepohonan
telah menghijau di setiap pekarangan rumah dan ruangan kuliah di kampus kami.
Burung-burung berterbangan dari dahan ke dahan sambil bernyanyi-nyanyi. Udara
segar dan sejuk nyaman. Jadi penghijauan di kampus itu telah berhasil. Demikianlah
kini keadaan kampus kami, berbeda dengan beberapa tahun yang lalu. Oleh
karena itu, para sivitas akademika merasa bangga atas kampus itu.
i.
Pemberian contoh yang
serasi. Contoh kalimat :
Wajah
pekarangan atau halaman rumah di desa kami telah berubah menjadi warung hidup.
Di pekarangan itu ditanami kebutuhan dapur sehari-hari. Ada juga pekarangan
rumah yang berupa apotek hidup, betapa tidak. Di perkarangan itu ditanam
obat-obatan tradisional misalnya : kumis kucing, lengkuas, jahe, kunyit, sirih,
serai dan lain-lain. Sisa/kelebihan kebutuhan sehari-hari dari warung dan
apotek hidup itu dapat pula dijual ke pasar; sebagai contoh : bayam, cabai,
kunyit, jahe dan sirih. Biar sedikit, tetapi menghasilkan uang juga.
j.
Penggunaan kesejajaran
atau paralelisme klausa sebagai sarana kekoherensifan wacana. Contoh kalimat :
Waktu
dia datang, memang saya sedang asyik membaca, saya sedang tekun mempelajari
buku baru mengenai wacana. Karena asyiknya, saya tidak mengetahui, saya
tidak mendengar bahwa dia telah duduk di kursi mengamati saya. Kemudian dia
mendehem, baru saya tahu bahwa ada tamu datang. Kami bersalaman, kami
berpelukan, saling melepas rindu sesame teman karib, kemudian kami asyik
berbincang-bincang mengenai masa lalu yang penuh kenangan.
Jadi,
dapat disimpulkan
bahwa koherensi yakni elmen yang
menggambarkan bagaimana peristiwa dihubungkan atau dipandang saling terpisah
oleh wartawan.
B. Piranti Kohesi
Telaah piranti Kohesi dalam wacana mencakup dua jenis
piranti kohesi, yaitu kohesi gramatikal dan kohesi leksial. Piranti kohesi
gramatikal adalah piranti kohesi yang
dinyatakan dengan jenis tata bahasa. Piranti kohesi gramatikal, meliputi
piranti kohesi pengacuan (reference), pelepasa (delection), pemakaian
pronominal, penyulihan (substitusi), penyebutan ulang, pemakaian konjungsi.
Piranti ohesi leksial adalah piranti kohesi yang diwujudkan dalam bentuk
leksial, mencakup nomina umum (general noun), reitarasi (reiteration), repitisi
(repition), sinonim, superordinat, kolokasi (collaction)
a) Piranti
Kohesi Konjungsi
Konjungsi merupakan kohesi
dalam wacana teks maka terlihat pada hubungan antar unsure klausa / kalimat,
baik dalam tataran intra kalimat, antarkalimat, antarparagraf, maupun dalam
tataran yang lebih besar. Piranti kohesi konjungsi dalam wacana / teks dapat
berwujud hubungan pertentangan, penambahan, pengecualian, sebab – akibat, dan
sebagainya.
Keterangan:
Pada kata dan, juga terdapat piranti kohesi konjungsi
penambahan (adiktif)
b) Piranti
Kohesi Subtitusi (Penyulihan)
Penyulihan merupakan
piranti kohesi pergantian konstituen dengan memakai kata yang maknanya sama sekali berbeda dengan
makna kata yang dibacanya
Contoh:
Oleh
karena itu, Turki ingin meningkatkan kemitraan dengan Indonesia mengingat
Negara itu menghadapi tantangan yang besar dalam menghadapi terror dan
radikalisme.
Keterangan:
Pada
kalimat diatas merupakan penyulihan, karena pada kata itu merupakan pergantian
kata pengacuan yang berbeda maknanya dengan yang dialaminya.
c) Piranti
Kohesi Referensi (Pengacuan)
Referensi merupakan peruses
mengacu kesesuatu yang diacunya.
Contoh:
a. Indonesia adalah
Negara yang sangat paham menghadapi terror.
b. Turki ingin
meningkatkan kemitraan dengan Indonesia mengingat Negara itu menghadapi
tantangan dalam menghadapi teror.
Keterangan:
Konstituen
Indonesia dan teror merupakan sesuatu yang diacu dan kalimat tersebut tidak
mengalami pergantian kata.
d) Anafora
dan Katafora
Anafora merupakan pengacuan
oleh suatu unsur pada unsur lain yang mendahului.
Contoh:
a.
Negara itu menghadapi
tantangan yang besar dalam menghadapi teror dan radikalisme.
Keterangan:
a. Wacana
tersebut menunjukkan Kohesi pengacuan anaphora karena mengacu kekonstituen
Negara itu yang menjadi subjek klausa pertama. Katafora merupakan pengacuan
oleh suatu unsure kepada unsure lain yang mengikutinya.
Contoh:
Kami terus bertekad melakukan
perjuangan melawan teroris, kita memasuki era dimana harus waspada, katanya.
e) Piranti
kohesi pengulangan
Piranti kohesi dengan sebuah wacana, juga
ditandai dengan penggunaan bentuk pengulangan secara defenisi.
Adapun piranti kohesi pengulangan
terdapat pada kata, yaitu:
1. Turki
2. Negara
3. Radikalisme
4. Terorisme
5. Indonesia
6. Terror
Jadi,
piranti kohesi antara lain; Piranti Kohesi Konjungsi, Piranti Kohesi Subtitusi
(Penyulihan), Piranti Kohesi Referensi
(Pengacuan), Anafora dan Katafora, Piranti kohesi pengulangan
C.
Piranti Koherensi
Istilah koherensi mengacuh pada aspek tuturan, bagaimana proposisi yang
terselubung disimpulkan untuk mengiterprestasikan tindakan ilikusinya dalam
membentuk sebuah wacana (widdowson,1979). Proposisi-proposisi didalam suatu
wacana dapat mebentuk sebuah wacana yang runtut (koheren) meskipun tidak terdapat
pemarkah pennghubung kalimat yang digunakan.
Koherensi sebuah wacana tidak terletak pada adanya piranti kohesi.
Disamping piranti kohesi masih banyak factor yang lain yang memungkinkan
terciptanya koherensi itu, antara latar belakang pengetahuan pemakai Bahasa
atas bidang permasalahan (subject matter), pengetahuan atas latar belakang
budaya dan sosial, kemampuan “membaca” tentang hal-hal yang tersirat, dan
lain-lain (van de velde 1984).
Syarat lain tetcapainya koherensi wacana, selain penataan urutan kalimat
( proposisi) bahwa proposisis itu harus positif. Tuturan seperti :
“Boncel belum mempunyai
istri.”
Tidak bisa menciptakan referen wacan untuk konsep istri. Karena itu,
tuturan tersebut tidak bisa diikuti tuturan seperti :
“Istri
cantik. Kulitnya kuning langsat dan
matanya jeli.”
Hal
itu dapat dipahami karena telah diketahui bahwa boncel tidak memiliki istri
sehingga tidak mungkin diberikan ciri-ciri tentang istri yang tidak ada itu.
Hal lain yang memegang peranan dalam menciptakan koherensi, menurut
Dardjowidjojo (1986), ialah apa yang disebut praanggapan (presupposition).
Pranggapan yang bersifat logis ( keenam,1971 :23) memeungkinkan kita mengetahui
hal-hal yang tersirat dalam wacana yang kita dengar atau baca. Contoh :
“Boncel tidak lagi memukuli istrinya ”
Pada contoh dapat diketahui bahwa (a) boncel adalah orang yang telah
kawin, dan (b) ia dikenal sebagai orang ringan tangan terhadap istrinya.
Kalua kedua prangaapan itu tidak
terpenuhi maka tuturan diatas tidak mempunyai nilai kebenaran (trutbbvalue).
Jika kedua prangaapan itu bena, maka contoh berikut merupakan tuturan yang
runtut terhadap tuturan.
Prangapaan yang bersifat pragmatick, menurut Dardjowidjojo (1986),
membekali kita tentang pengetahuan yang secara kodrati kita serap sedikit demi
sedikit dari fenomenaalam sekitar. Salah satu diantaranya adalah pengetahuan
tentang benda. Benda apapun didunia ini memiliki bagian wajib yang secara
konseptual tidak bisa dilepaskan daripadanya. Bendah seperti rumah memiliki
bagian-bagian wajib. Seperti atap, lantai, pintu, dan sebagainya sedangkan
manusia memiliki bagian –bagian wajib : mata, hidung, kaki, mulut, dan
sebagainya. Apabila benda induknya sudah disebut, dengan sendirinya, bagian-bagian
wajib lainyatelah ikut diperkenalkan sehinga bagian-bagian telah menjadi
informasi lama. Contoh:
“Firdaus membeli rumah dikota.”
Tuturan itu
dapat diikuti dengan tuturan berikut.
“Pintunya dari kayu
jati,Atapnya genting cor, catnya biru muda, dan pagarnya sangat tinggi.”
Factor lain seperti lokasi geografis dan kesadaran budaya dapat pula
memberi pengaruh koherensi wacana. Marilah, kita perhatikan contoh dibawah ini
:
(a)Dono
membeli rumah minggu lalu (b) lantainya dua meter dari tanah.
Kedua tuturan itu merupakan dua tuturan yang padu bagi mereka yang
,mempunyai budaya rumah yang tinggi, sedangkan bagi kelompok lain, yang lantai
rumahnya pada umumnya setara dengan tanah, tuturan seperti itu diangap aneh.
Disamping itu, pemahaman wacana juga ditentukan oleh variasi ujaran dalam
situasi yang berbeda. Penguraian sumber privasi menghendaki sejumlah
persyaratan , misalnya kita harus melihat peranan partisipan tutur, hubungan
antar partisipan ; apakah mereka itu sahabat , orang asing , muda,tua, berasal
dari status yang sama, dan seterusnya. Semua factor itu mempengaruhi apa yang
dituturkan dan bagaimana suatu itu dituturkan. Tugas pendengar atau pembaca
adalah menguraikan topik tuturan dan dalam situasi bagaimana tuturan itu
terjadi. Namun demikian, sebagai pemakai Bahasa dalam budaya tertentu, kita
memiliki pengetahuan yang cukup tentang bagaimana menafsirkan suatu tuturan.
Perhatikan contoh dibawah ini.
“Executive
vip hr /bln ac/tvles+km dlm kmr lux dannyaman D.kupang 19/12 T 5633476”
“Dicari TKW
ex-sing/H.kongunt Cyprus (eropa ) resmi/proses cpt T 0321 75959464 9surya,
kamis, 10 agustus 2000)”
Melihat penulis wawancara seperti itu, kita tentu mengetahui bahwa wacana
itu berasal dari rubrik iklan disebuah surat kabar. Kata-kata dan singkatan-singkatan
mengarahkan pembaca untuk menafsirkan kata-kata tersebut sebagai kalimat atau
bagian kalimat. Karena iklan terdapat dalam rubrik “kost” dan iklan dan rubrik
“lowongan”, segera kita dapat menafsirkan hawa berisi iklan untuk orang-orang eksekutif
perusahaan yang memerlukan pemondokan. Fasilitas pemondokan yang disediakan
pemasangan iklan ialah kamar tidur lux dengan kamar mandi didalam, ada lemari
es, TV, dan mesin pendingin ruangan. System pembayaran sewa kamar bisa harian
ataupun bulanan. Tempatnya dijelaskan sedangkan mengadakan hubungan dijelaskan
harus melalui telepon nomor 123456 pada contoh diatas kita mengetahui bahwa yang
dicari pemasang iklan adalah tenaga kerja wanita yang perna bekerja di
singapura atau Hongkong untuk dipekerjakan dinegara Cyprus. Pemasangan iklan
menertakan bahwa pengerahan tenaga kerja wanita tersebut bersifat resmi dan akan diproses secara cepat.
Jadi, piranti koherensi adalah mengacuh
pada aspek tuturan, Syarat lain tetcapainya koherensi wacana, selain penataan
urutan kalimat ( proposisi) bahwa proposisis itu harus positif.
Contoh kohesi
Pak guru mengajar matematika dan Bahasa Inggris.
Pelajaran itu dikuasainya dengan baik. (dalam kalimat kedua, kata “matematika
dan bahasa inggris” di kalimat pertama digantikan oleh kata “pelajaran itu” –
dalam hal ini dapat dikatakan bahwa kedua kalimat itu memiliki kohesi.
Contoh koherensi
Istri
(mengetuk pintu kamar mandi) : Ada telepon dari Joko!
Suami
(sedang mencuci baju di kamar mandi): Lagi tanggung, nih! Lima belas menit
lagi, deh.
Istri: Oke.
Sumber:
Tarigan, 1987.Pengajaran Wacana. Bandung Angkasa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar