Selasa, 10 Juli 2018

Kohesi dan koherensi 6


KOHESI DAN KOHERENSI
Oleh: Sulistriani (156047) / 2015 A
A. Pendahuluan
Keterampilan dalam berbahasa memiliki empat komponen yang saling berkaitan antara yang satu dengan yang lainnya.  Keempat komponen tersebut adalah keterampilan Menyimak, keterampilan berbicara, keterampilan membaca serta keterampilan menulis (Nida, 1957:19; Haris,1977:9; Tarigan,1981:1). Komponen-komponen tersebut sangat mempengaruhi keterampilan berbahasa pada diri seseorang sehingga perlu baginya untuk mempelajari setiap komponen agar memiliki kemampuan berbahasa yang baik. Salah satu komponen yang terpenting dalam pembelajaran bahasa ini adalah keterampilan menulis. Keterampilan ini pada tata urutan komponen pembelajaran menempati urutan terakhir atau yang teratas karena memiliki tingkat kesulitan yang lebih tinggi dari komponen pembelajaran bahasa yang lain.
Alasan dalam membuat essai makalah yang berjudul “Kohesi dan koherensi” yakni seseorang dalam memahami sebuah wacana tidak hanya cukup mengetahui pengertiannya saja, akan tetapi juga memahami sebuah piranti kohesi dan koherensi. Untuk itu, Tujuan penulisan ini yakni dapat dijadikan sebagai bahan referensi bagi si pembaca dalam mengkaji sebuah wacana.
B. Kajian Teori
 1. Definisi
A.  Pengertian Kohesi dan Koherensi
1. Kohesi 
Kohesi merupakan aspek formal bahasa dalam wacana. Dengan demikian, jelaslah bahwa kohesi merupakan organisasi sintaktik, merupakan wadah kalimat-kalimat disusun secara padu dan padat untuk menghasilkan tuturan. Hal ini berarti bahwa kohesi adalah hubungan antar kalimat dalam sebuah wacana, baik dalam strata gramatikal maupun dalam strata leksikal tertentu (Gutwinsky, 1976 : 26)
Haliday dan Hassan dalam Bambang Hartono (2000:145) mengungkapkan bahwa kohesi merupakan konsep makna yang mengacu pada hubungan makna di dalam suatu wacana. Kohesi adalah kesatuan semantis antara satu ujaran dengan ujaran lainnya dalam suatu wacana. Kohesi adalah hubungan antarkalimat di dalam sebuah wacana baik dalam skala gramatikal maupun skala leksikal tertentu.
Kohesi memiliki pengertian yaitu hubungan antarkalimat dalam sebuah wacana, baik dalam strata gramatikal maupun dalam strata leksikal tertentu (Gutwinsky, 1976 : 26 dalam Tarigan, 2009 : 93). Untuk dapat memahami wacana dengan baik, diperlukan pengetahuan dan penguasaan kohesi yang baik pula, yang tidak saja bergantung pada pengetahuan kita tentang kaidah-kaidah bahasa, tetapi juga kepada pengetahuan kita mengetahui realitas, pengetahuan kita dalam proses penalaran, yang disebut penyimpulan sintaktik (Van de Velde, 1984 : 6 dalam Tarigam, 2009 : 93). Kita dapat mengatakan bahwa suatu teks atrau wacana benar-benar bersifat kohesif apabila terdapat kesesuaian secara bentuk bahasa terhadap konteks (Tarigan, 2009 : 93).
Jadi, dapat disimpulkan bahwa kohesi dapat diartikan sebagai keserasian hubungan antar unsur yang satu dengan unsur yang lain dalam wacana. Kohesi mengacu pada aspek bentuk atau aspek formal bahasa, dan wacana itu terdiri dari kalimat-kalimat.
Khusus untuk bahasa Inggris, dua orang pakar-Halliday dan Hasan tahun 1976 telah mengemukakan sarana-sarana kohesif yang terperinci dalam karya mereka yang berjudul Cohesion in English. Mereka mengelompokkan sarana-sarana kohesif itu ke dalam lima kategori, yaitu :
a.    Pronominal (kata ganti)
Pronomina atau kata ganti terdiri atas kata ganti diri, kata ganti penunjuk, dan lain-lain. Kata ganti diri dalam bahasa Indonesia adalah :
a.       saya, aku, kita, kami
b.      engkau, kamu, kau, kalian, anda
c.       dia, mereka.
Penggunaan kata ganti diri di atas dapat kita lihat dan baca pada contoh berikut ini :
1.      Kata ganti penunjuk dalam bahasa Indonesia adalah ini, itu, sini, situ, sana, di sini, di situ, di sana, ke sini, ke situ, ke sana. Contoh kalimat ;
“Ini rumah kami. Kami tinggal di sini sejak tahun 1962. Tamu-tamu dari Sumatra sering datang ke sini dan menginap beberapa lama di sini.”
2.      Kata ganti empunya dalam bahasa Indonesia adalah –ku, -mu, -nya, kami, kamu, kalian, mereka. Bentuk-bentuk  –ku, -mu, -nya, disebut juga bentuk enklitis. Berikut ini contoh kalimatnya ;
“Anakmu kuliah dimana? Anak kami sama-sama kuliah di Universitas Indonesia. Kita semua tentu menginginkan agar anak kita menjadi orang kelak. Bagaimana dngan teman-teman kita, di mana anak mereka belajar sekarang? Anak mereka ada yang belajar di Sumater, ada yang di Jawa, bahkan ada yang telah bekerja dan berumah tangga.”
3.      Kata ganti penanya dalam bahasa Indonesia adalah apa, siapa, mana. Contoh kalimat ;
“Apa yang kamu cari di sini?
Siapa yang kamu pilih menjadi temanmu hidup? Pikirkanlah baik-baik hal ini, supaya jangan menyeasal di kemudian hari. Apakah kamu menyadari untuk apa dan untuk siapa kamu bekerja keras.
Mana yang kamu pilih, kekayaan atau ketentraman hidup? Atau keduanya?”
4.      Kata ganti penghubung dalam bahasa Indonesia adalah yang, seperti. Contoh kalimat ;
Kita hidup bermasyarakat, hidup tolong-menolong, yang pintar mengajari yangbodoh ;yang kaya menolong yang miskin ; yang melek memimpin yang buta, yang kuat melindungi yang lemah. Masyarakat yang berpedomankan pancasila tentu hidup rukun dan tentram.”
5.    Kata ganti tak tentu dalam bahasa Indonesia adalah siapa-siapa, masing-masing, sesuatu seseorang, para. Contoh kalimat ;
“Siapa-siapa yang turut berdarmawisata ke Pantai Pangandaran ditentukan oleh Kepala sekolah kami. Kepada para pengikut diberikan sesuatu yang sangat menggembirakan. Selain tidak dipungut biaya kepada masing-masing pengikut diberi uang saku sepuluh ribu rupiah. Sesuatu yang diharapkan dari seseorang selama ini telah menjadi kenyataan. Tidak ada yang lebih menggembirakan hati seseorang selain dari pada memperoleh apa-apa yang diharapkan dan dicita-citakan sebelumnya. “pucuk dicinta, ulam tiba” kata pepatah orang tua kita, bukan?”
b.    Substitusi (penggantian)
Susbtitusi adalah proses atau hasil penggantian unsure bahasa oleh unsur lain dalam satuan yang lebih besar untuk memperoleh unsur-unsur pembeda atau untuk menjelaskan suatu struktur tertentu. (Kridalaksana, 1984 : 185).
Susbtitusi merupakan hubungan gramatikal, lebih bersifat hubungan kata dan makna. Substitusi dalam bahasa Indonesia dapat bersifat nominal, verbal, klausal,atau campuran ; misalnya satu, sama, seperti itu, sedemikian rupa, demikian, begitu, melakukan hal yang sama.
c.    Ellipsis
Elipsis adalah peniadaan kata atau satuan lain yang wujudnya asalnya dapat diramalkan dari konteks bahasa atau konteks luar bahasa (Kridalaksana, 1984 : 45). Elipsis dapat pula dikatakan penggantian nol (zero); sesuatu yang ada tetapi tidak diucapkan atau tidak dituliskan. Hal ini dilakukan demi kepraktisan. Elipsis pun dapat pula dibedakan atas elipsis nominal, ellipsis verbal, ellipsis klausal
d.   konjungsi
Konjugsi adalah yang dipergunakan untuk menggabungkan kata dengan kata, frase dengan frase. Klausa dengan klausa, kalimat dengan kalimat, atau paragraf dengan paragraf (Kridalaksana, 1984 : 105).Konjugsi dalam bahasa Indonesia dapat dikelompokkan atas :
a.       Konjugsi adversatif   : tetapi, namun
b.      Konjugsi klausal        : sebab, karena
c.       Konjugsi koordinatif : dan, atau tetapi
d.      Konjugsi korelatif      : entah/entah, baik/maupun
e.       Konjugsi subordinatif            : meskipun, kalau, bahwa
f.       Konjugsi temporal     : sebelum, sesudah
e.    leksikal
Leksikal diperoleh dengan cara memilih kosakata yang serasi. Ada beberapa cara untuk mencapai aspek leksikal kohesi ini, antara lain :
a.       Pengulangan (repetisi) kata yang sama : pemuda-pemuda
b.      Sinonim           : pahlawan-pejuang
c.       Antonim          : putra-putri
d.      Hiponim          : angkutan darat-kereta api, bis
e.       Kolokasi          : buku, koran, majalah-media massa
f.       Ekuivalensi      : belajar, mengajar, pelajar, pengajar, pengajaran
2. Koherensi
Dalam sebuah kamus besar, dapat dibaca keterangan mengenai koherensi sebagai berikut :
1. kohesi : perbuatan atau keadaan menghubungkan, mempertalikan
2. koneksi : hubungan yang cocok dan sesuai atau ketergantungan satu sama lain yang rapi, beranjak  dari hubungan alamiah bagian-bagian atau hal-hal satu sama lain, seperti dalam bagian wacana, atau argumen suatu rentetan penalaran (Webster, 1983 : 352)
Dari pengertian yang terter pada kamus tersebut, dapat dilihat bahwa tidak terlihat perbedaan nyata antara koherensi dan kohesi. Oleh sebab itu, tidak usah heran bahwa dalam sejumlah buku pengertian kedua istilah ini sering disamakan, dipertukarkan pemakainnya. Namun, berusahamembedakannya, sekalipun kita mengetahui bahwa keduanya saling menunjang, saling berkaitan.
Ada pakar yang mengutarakan bahwa koherensi adalah pengaturan secara rapikenyataan dan gagasan, fakta dan ide menjadi suatu untaian yang logis sehingga mudah mema hami pesan yang dikandungnya (Wohl, 1978 :25) bila kit menerima bahwa wacana ideal terdiri atas kalimat-kalimat, bahkan paragraf-paragraf, maka kita pun dapat mengerti bahwa untuk mencapai kekoherensifan yang mantap dibutuhkan pemarkah koherensif atau pemarkah transisi.
Koherensi adalah pertalian atau jalinan antar kata, atau kalimat dalam teks. Dua buah kalimat yang menggambarkan fakta yang berbeda dapat dihubungkan sehingga tampak koheren. Sehingga fakta yang tidak terhubungkan sekalipun dapat menjadi berhubungan ketika seseorang menghubungkannya.
Koherensi merupakan elmen wacana untuk melihat bagaimana seseorang secara strategis menggunakan wacana untuk menjelaskan suatu fakta atau peristiwa. Apakah peristiwa itu dipandang saling terpisah, berhubungan, atau malah sebab akibat. Pilihan-pilihan mana yang diambil ditentukan oleh sejauh mana kepentingan komunikator terhadap peristiwa tersebut.
Kata hubung “dan”
Demonstrasi mahasiswa marak dan nilai tukar rupiah melemah. Di mana-mana mahasiswa turun ke jalan. Kemarin, nilai tukar rupiah melemah ke posisi 8.500 per USS. Ini nilai tukar rupiah yang terrendah dalam sebulan terakhir.
Kata hubung “akibat”
Maraknya demonstrasi mahasiswa menyebabkan nilai tukar rupiah melemah. Kemarin nilai tukar rupiah mencapai 8.500 per USS. Ini nilai tukar rupiah yang terrendah dalam sebulan terakhir.

Koherensi ini secara mudah dapat siamati di antaranya dari kata hubung (konjugsi) yang dipakai untuk menghubungkan fakta. Apakah dua kalimat dipandang sebagai hubungan klausal (sebab akibat), hubungan keadaan, waktu, kondisi, dan sebagainya. Misalnya pernyataan, “lima mahasiswa Trisakti tewas akibat bentrok dengan aparat keamanan”. Di sini ada dua kalimat yaitu “mahasiswa yang tewas” dan “mahasiswa bentrok dengan aparat keamanan”. Kedua kalimat tersebut dihubungkan sebagai sebab akibat (ditandai dengan kata hubung “akibat”). Kalimat di atas akan mempunyai makna lain ketika dihungkan dengan anak kalimat lain seperti, “mahasiswa bentrok dengan aparat keamanan dan 5 mahasiswa Trisakti tewas”- mengesankan bahwa terbunuhnya mahasiswa Trisakti tersebut bukan semata-mata kesalahan aparat keamanan. Kata hubung (konjugsi) yang dipakai (dan, akibat, tetapi,lalu, karena, meskipun) menyebabkan makna yang berlainan ketika hendak menghubungkan kalimat koherensi memberikan kesan kepada khalayak bagaimana dua fakta diabstraksikan dan dihubungkan. Misalnya dalam peristiwa penjarahan massal. Pemakaian kata hubung, seperti : “karena tingkat pendidikan mereka rendah” dapat memberi kesan bahwa rendahnya pendidikanlah yang menyebabkan mereka melakukan penjarahan.
Koherensi merupakan elmen yang menggambarkan bagaimana peristiwa dihubungkan atau dipandang saling terpisah oleh wartawan. Misalnya ada peristiwa pengumuman status Soeharto oleh Kejaksaan Agung yang statusnya menjadi tersangka, sementara di Ambon konflik pecah kembali setelah sebelumnya sempat dalam kondisi damai. Di siniada dua peristiwa, yang satu ada di Jakarta, yang lain di Ambon. Bagaimana dua peristiwa itu dipandang oleh wartawan? Apakah dua peristiwa tersebut dipandang sebagai peristiwa terpisah? Ataukah saling berhubungan? Kalau berhubungan , bagaimana bentuk hubungannya? Apakah yang satu menyebabkan yang lain, ataukah yang satu diakibatkan oleh yang lain? Kita bisa menganalisis bagaimana peristiwa yang carut-marut dan kompleks tersebut dari koherensi yang dipakai oleh wartawan. Kalau wartawan menganggap dua peristiwa itu sebagai terpisah, maka dua peristiwa itu akan diberitakan secara berbeda, dan tulisan yang berbeda pula. Kalau dua peristiwa itu dianggap sebagai berhubungan, umumnya diletakkan dalam satu item berita dan kita bisa amati  bagaimana hubungan itu diabstraksikan.
Menurut F.J.D’Angelo 1980 (Tarigan 1987:101-) aneka sarana koherensi, antara lain ;
a.       Sarana penghubung yang bersifat aditif atau berupa penambahan yaitu; dan, juga, lagi, pula. Contoh kalimat :
Laki-laki dan perempuan, tua dan muda, juga para tamu turut bekerja bergotong-royong menumpas hama tikus di sawah-sawah di desa kami. Selain dari pada menyelamatkan tanaman, juga upaya itu akan meningkatkan hasil panen.
b.      Sarana penghubung rentetan atau seri adalah pertama, kedua, berikut, kemudian, selanjutnya, akhirnya. Contoh kalimat :
Pertama-tama kita semua harus mendaftarkan diri sebagai anggota perkumpulan. Kedua, kita membayar uang iuran. Berikutnya kita mengikuti segala kegiatan, baik berupa latihan maupun kursus-kursus. Kemudian kita mengikuti ujia, dan selanjutnya kalau lulus kita diterima sebagia anggota tetap.Akhirnya kita diangkat menjadi penyuluh bagi masyarakat pedesaan dalam hal-hal praktis mengenai kesehatan dan kesejahteraan keluarga.
c.       Penggunaan repetisi atau pengulangan kata sebagai sarana koherensif wacana. Contoh kalimat :
Dia mengatakan kepada saya bahwa kasih sayang itu berada dalam jiwa dan raga sang ibu. Saya menerima kebenaran ucapan itu. Betapa tidak. Kasih sayang pertama saya peroleh dari ibu saya. Ibu melahirkan saya. Ibu mengasuh saya. Ibu menyusui saya. Ibu memandikan saya. Ibu menyuapi saya. Ibu meninabobokan saya. Ibu mencintai dan mengasihi saya. Saya tidak bisa melupakan jasa dan kasih sayang ibu saya seumur hidup.semoga ibu panjang umur dilindungan Tuhan.
d.      Kelas ke anggota agak mirip dengan sarana koherensif wacana. Contoh kalimat :
Pemerintah berupaya keras meningkatkan perhubungan darat, laut, dan udara. Dalam bidang perhubungan darat telah digalakkan pemanfaatkan kereta api dan kendaraanbermotor. Kendaraan bermotor meliputi mobil, speda motor, dan lain-lain.
e.        Sarana penekanan dapat pula menambah tingkat kekoherensifan wacana terlihat pada contoh kalimat berikut ini :
Bekerja bergotong royong itu bukan pekerjaan sia-sia. Nyatalah kini hasilnya. Jembatan sepanjang tujuh kilometer yang menghubungkan kampong kita ini dengan kampong di seberang Sungai Lau Biang ini telah sekali kita kerjakan AMD (Abri masuk Desa). Jelaslah hubungan antar kedua kampong berjalan lebih lancar.
f.       Komperansi atau perbandingan. Dapat menambah serta meningkatkan kekoherensifan wacana, seperti contoh berikut ini :
Sama halnya dengan paman Lukas, kita pun harus segera mendirikan rumah di atas tanah yang baru kita beli itu. Sekarang rumah Lukas itu baru selesai. Mengapa kita tidak membuat hal yang serupa selekat mungkin? Kita juga sanggup berbuat hal yang sama takkan lebih dari itu.
g.      Kontras atau pertentangan para penulis dapat menambah kekoherensian karyanya. Contoh kalimat :
Aneh tapi nyata. Ada teman saya seangkatan, namanya Joni. Dia rajin sekali belajar, tetapi tentamen selalu tidak lulus. Harus mengulang namun demikian, dia tidak pernah putus asa. Dia tenang saja. Tidak pernah mengeluh. Bahkan sebalinya, dia semakin rajin belajar.
h.      Hasil atau simpulan dapat juga meningkatkan kekoherensifan wacana. Contoh kalimat :
Pepohonan telah menghijau di setiap pekarangan rumah dan ruangan kuliah di kampus kami. Burung-burung berterbangan dari dahan ke dahan sambil bernyanyi-nyanyi. Udara segar dan sejuk nyaman. Jadi penghijauan di kampus itu telah berhasil. Demikianlah kini keadaan kampus kami, berbeda dengan beberapa tahun yang lalu. Oleh karena itu, para sivitas akademika merasa bangga atas kampus itu.
i.        Pemberian contoh yang serasi. Contoh kalimat :
Wajah pekarangan atau halaman rumah di desa kami telah berubah menjadi warung hidup. Di pekarangan itu ditanami kebutuhan dapur sehari-hari. Ada juga pekarangan rumah yang berupa apotek hidup, betapa tidak. Di perkarangan itu ditanam obat-obatan tradisional misalnya : kumis kucing, lengkuas, jahe, kunyit, sirih, serai dan lain-lain. Sisa/kelebihan kebutuhan sehari-hari dari warung dan apotek hidup itu dapat pula dijual ke pasar; sebagai contoh : bayam, cabai, kunyit, jahe dan sirih. Biar sedikit, tetapi menghasilkan uang juga.
j.        Penggunaan kesejajaran atau paralelisme klausa sebagai sarana kekoherensifan wacana. Contoh kalimat :
Waktu dia datang, memang saya sedang asyik membaca, saya sedang tekun mempelajari buku baru mengenai wacana. Karena asyiknya, saya tidak mengetahui, saya tidak mendengar bahwa dia telah duduk di kursi mengamati saya. Kemudian dia mendehem, baru saya tahu bahwa ada tamu datang. Kami bersalaman, kami berpelukan, saling melepas rindu sesame teman karib, kemudian kami asyik berbincang-bincang mengenai masa lalu yang penuh kenangan.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa koherensi yakni elmen yang menggambarkan bagaimana peristiwa dihubungkan atau dipandang saling terpisah oleh wartawan.
B.  Piranti Kohesi
Telaah piranti Kohesi dalam wacana mencakup dua jenis piranti kohesi, yaitu kohesi gramatikal dan kohesi leksial. Piranti kohesi gramatikal  adalah piranti kohesi yang dinyatakan dengan jenis tata bahasa. Piranti kohesi gramatikal, meliputi piranti kohesi pengacuan (reference), pelepasa (delection), pemakaian pronominal, penyulihan (substitusi), penyebutan ulang, pemakaian konjungsi. Piranti ohesi leksial adalah piranti kohesi yang diwujudkan dalam bentuk leksial, mencakup nomina umum (general noun), reitarasi (reiteration), repitisi (repition), sinonim, superordinat, kolokasi (collaction)
a)    Piranti Kohesi Konjungsi
Konjungsi merupakan kohesi dalam wacana teks maka terlihat pada hubungan antar unsure klausa / kalimat, baik dalam tataran intra kalimat, antarkalimat, antarparagraf, maupun dalam tataran yang lebih besar. Piranti kohesi konjungsi dalam wacana / teks dapat berwujud hubungan pertentangan, penambahan, pengecualian, sebab – akibat, dan sebagainya.
Keterangan:
Pada kata dan, juga terdapat piranti kohesi konjungsi penambahan (adiktif)
b)   Piranti Kohesi Subtitusi (Penyulihan)
Penyulihan merupakan piranti kohesi pergantian konstituen dengan memakai kata  yang maknanya sama sekali berbeda dengan makna kata yang dibacanya
Contoh:
Oleh karena itu, Turki ingin meningkatkan kemitraan dengan Indonesia mengingat Negara itu menghadapi tantangan yang besar dalam menghadapi terror dan radikalisme.
Keterangan:
Pada kalimat diatas merupakan penyulihan, karena pada kata itu merupakan pergantian kata pengacuan yang berbeda maknanya dengan yang dialaminya.
c)    Piranti Kohesi Referensi  (Pengacuan)
Referensi merupakan peruses mengacu kesesuatu yang diacunya.
Contoh:
a.       Indonesia adalah Negara yang sangat paham menghadapi terror.
b.  Turki ingin meningkatkan kemitraan dengan Indonesia mengingat Negara itu menghadapi tantangan dalam menghadapi teror.
Keterangan:
Konstituen Indonesia dan teror merupakan sesuatu yang diacu dan kalimat tersebut tidak mengalami pergantian kata.
d)   Anafora dan Katafora
Anafora merupakan pengacuan oleh suatu unsur pada unsur lain yang mendahului.
Contoh:
a.          Negara itu menghadapi tantangan yang besar dalam menghadapi teror dan radikalisme.
Keterangan:
a.       Wacana tersebut menunjukkan Kohesi pengacuan anaphora karena mengacu kekonstituen Negara itu yang menjadi subjek klausa pertama. Katafora merupakan pengacuan oleh suatu unsure kepada unsure lain yang mengikutinya.
Contoh:
Kami terus bertekad melakukan perjuangan melawan teroris, kita memasuki era dimana harus waspada, katanya.
e)    Piranti kohesi pengulangan
Piranti kohesi dengan sebuah wacana, juga ditandai dengan penggunaan bentuk pengulangan secara defenisi.
            Adapun piranti kohesi pengulangan terdapat pada kata, yaitu:
1.      Turki
2.      Negara
3.      Radikalisme
4.      Terorisme
5.      Indonesia
6.      Terror
Jadi, piranti kohesi antara lain; Piranti Kohesi Konjungsi, Piranti Kohesi Subtitusi (Penyulihan), Piranti Kohesi Referensi  (Pengacuan), Anafora dan Katafora, Piranti kohesi pengulangan
C. Piranti Koherensi
Istilah koherensi mengacuh pada aspek tuturan, bagaimana proposisi yang terselubung disimpulkan untuk mengiterprestasikan tindakan ilikusinya dalam membentuk sebuah wacana (widdowson,1979). Proposisi-proposisi didalam suatu wacana dapat mebentuk sebuah wacana yang runtut (koheren) meskipun tidak terdapat pemarkah pennghubung kalimat yang digunakan.
Koherensi sebuah wacana tidak terletak pada adanya piranti kohesi. Disamping piranti kohesi masih banyak factor yang lain yang memungkinkan terciptanya koherensi itu, antara latar belakang pengetahuan pemakai Bahasa atas bidang permasalahan (subject matter), pengetahuan atas latar belakang budaya dan sosial, kemampuan “membaca” tentang hal-hal yang tersirat, dan lain-lain (van de velde 1984).
Syarat lain tetcapainya koherensi wacana, selain penataan urutan kalimat ( proposisi) bahwa proposisis itu harus positif. Tuturan seperti :
“Boncel belum mempunyai istri.”
Tidak bisa menciptakan referen wacan untuk konsep istri. Karena itu, tuturan tersebut tidak bisa diikuti tuturan seperti :
“Istri cantik.  Kulitnya kuning langsat dan matanya jeli.”
Hal itu dapat dipahami karena telah diketahui bahwa boncel tidak memiliki istri sehingga tidak mungkin diberikan ciri-ciri tentang istri yang tidak ada itu.
Hal lain yang memegang peranan dalam menciptakan koherensi, menurut Dardjowidjojo (1986), ialah apa yang disebut praanggapan (presupposition). Pranggapan yang bersifat logis ( keenam,1971 :23) memeungkinkan kita mengetahui hal-hal yang tersirat dalam wacana yang kita dengar atau baca. Contoh :
                   “Boncel tidak lagi memukuli istrinya ”
Pada contoh dapat diketahui bahwa (a) boncel adalah orang yang telah kawin, dan (b) ia dikenal sebagai orang ringan tangan terhadap istrinya. Kalua kedua prangaapan itu  tidak terpenuhi maka tuturan diatas tidak mempunyai nilai kebenaran (trutbbvalue). Jika kedua prangaapan itu bena, maka contoh berikut merupakan tuturan yang runtut terhadap tuturan.
Prangapaan yang bersifat pragmatick, menurut Dardjowidjojo (1986), membekali kita tentang pengetahuan yang secara kodrati kita serap sedikit demi sedikit dari fenomenaalam sekitar. Salah satu diantaranya adalah pengetahuan tentang benda. Benda apapun didunia ini memiliki bagian wajib yang secara konseptual tidak bisa dilepaskan daripadanya. Bendah seperti rumah memiliki bagian-bagian wajib. Seperti atap, lantai, pintu, dan sebagainya sedangkan manusia memiliki bagian –bagian wajib : mata, hidung, kaki, mulut, dan sebagainya. Apabila benda induknya sudah disebut, dengan sendirinya, bagian-bagian wajib lainyatelah ikut diperkenalkan sehinga bagian-bagian telah menjadi informasi lama. Contoh:
                    “Firdaus membeli rumah dikota.”
Tuturan itu dapat diikuti dengan tuturan berikut.
        “Pintunya dari kayu jati,Atapnya genting cor, catnya biru muda, dan pagarnya sangat tinggi.”
Factor lain seperti lokasi geografis dan kesadaran budaya dapat pula memberi pengaruh koherensi wacana. Marilah, kita perhatikan contoh dibawah ini :
            (a)Dono membeli rumah minggu lalu (b) lantainya dua meter dari tanah.
Kedua tuturan itu merupakan dua tuturan yang padu bagi mereka yang ,mempunyai budaya rumah yang tinggi, sedangkan bagi kelompok lain, yang lantai rumahnya pada umumnya setara dengan tanah, tuturan seperti itu diangap aneh.
Disamping itu, pemahaman wacana juga ditentukan oleh variasi ujaran dalam situasi yang berbeda. Penguraian sumber privasi menghendaki sejumlah persyaratan , misalnya kita harus melihat peranan partisipan tutur, hubungan antar partisipan ; apakah mereka itu sahabat , orang asing , muda,tua, berasal dari status yang sama, dan seterusnya. Semua factor itu mempengaruhi apa yang dituturkan dan bagaimana suatu itu dituturkan. Tugas pendengar atau pembaca adalah menguraikan topik tuturan dan dalam situasi bagaimana tuturan itu terjadi. Namun demikian, sebagai pemakai Bahasa dalam budaya tertentu, kita memiliki pengetahuan yang cukup tentang bagaimana menafsirkan suatu tuturan. Perhatikan contoh dibawah ini.
            “Executive vip hr /bln ac/tvles+km dlm kmr lux dannyaman D.kupang 19/12 T 5633476”
“Dicari TKW ex-sing/H.kongunt Cyprus (eropa ) resmi/proses cpt T 0321 75959464 9surya, kamis, 10 agustus 2000)”
Melihat penulis wawancara seperti itu, kita tentu mengetahui bahwa wacana itu berasal dari rubrik iklan disebuah surat kabar. Kata-kata dan singkatan-singkatan mengarahkan pembaca untuk menafsirkan kata-kata tersebut sebagai kalimat atau bagian kalimat. Karena iklan terdapat dalam rubrik “kost” dan iklan dan rubrik “lowongan”, segera kita dapat menafsirkan hawa berisi iklan untuk orang-orang eksekutif perusahaan yang memerlukan pemondokan. Fasilitas pemondokan yang disediakan pemasangan iklan ialah kamar tidur lux dengan kamar mandi didalam, ada lemari es, TV, dan mesin pendingin ruangan. System pembayaran sewa kamar bisa harian ataupun bulanan. Tempatnya dijelaskan sedangkan mengadakan hubungan dijelaskan harus melalui telepon  nomor 123456  pada contoh diatas kita mengetahui bahwa yang dicari pemasang iklan adalah tenaga kerja wanita yang perna bekerja di singapura atau Hongkong untuk dipekerjakan dinegara Cyprus. Pemasangan iklan menertakan bahwa pengerahan tenaga kerja wanita tersebut bersifat resmi  dan akan diproses secara cepat.
Jadi, piranti koherensi adalah mengacuh pada aspek tuturan, Syarat lain tetcapainya koherensi wacana, selain penataan urutan kalimat ( proposisi) bahwa proposisis itu harus positif.
Contoh kohesi
 Pak guru mengajar matematika dan Bahasa Inggris. Pelajaran itu dikuasainya dengan baik. (dalam kalimat kedua, kata “matematika dan bahasa inggris” di kalimat pertama digantikan oleh kata “pelajaran itu” – dalam hal ini dapat dikatakan bahwa kedua kalimat itu memiliki kohesi.
Contoh koherensi
Istri (mengetuk pintu kamar mandi) : Ada telepon dari Joko!
Suami (sedang mencuci baju di kamar mandi): Lagi tanggung, nih! Lima belas menit lagi, deh.
Istri: Oke.
Sumber:
Tarigan, 1987.Pengajaran Wacana. Bandung Angkasa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar