Selasa, 10 Juli 2018

wacana lisan dan tulisan (menganalisis monolog,dialog, dan polilog) 8


wacana lisan dan tulisan
Menganalisis monolog, dialog, polilog
Oleh: Sulistriani (156047) / 2015 A 
A. Pendahuluan
Wacana lisan dan tulisan dikatakan sebagai sebuah saluran berkomunikasi. wacana tulis merupakan wacana yang disampaikan secara tertulis melalui media tulis. Sedangkan wacana lisan adalah jenis wacana yang disampaikan secara lisan atau langsung dalam bahasa verbal. Wacana lisan merupakan wacana yang disampaikan secara lisan melalui media lisan. Wacana tulis dapat kita temukan dalam bentuk buku, berita koran, artikel, makalah dan sebagainya, sedangkan wacana lisan misalnya percakapan khutbah, dan siaran langsung di radio atau TV. 
Alasan dalam membuat essai makalah yang berjudul “Menganalisis wacana lisan dan tulisan (Monolog, dialog, dan polilog)” yakni seseorang dalam memahami sebuah wacana tidak hanya cukup mengetahui pengertian, dan bentuknya saja, akan tetapi pemahaman tentang kajian wacana pun perlu diketahui sebagai pondasi atau referensi dalam mengkaji wacana serta menganalisis dalam penerapan kehidupan sehari-hari. Untuk itu, Tujuan penulisan ini yakni dapat dijadikan sebagai bahan referensi bagi si pembaca dalam mengkaji sebuah wacana.
B. Kajian Teori
 1. Definisi
A.             Menganalisis wacana lisan dan tulisan
Berdasarkan saluran yang digunakan dalam berkomunikasi, dibedakan menjadi wacana tulis dan wacana lisan. Wacana tulis (written discourse) adalah jenis wacana yang disampaikan melalui media tulisan (Mulyana, 2005: 51). Tarigan (1987: 52) berpendapat bahwa wacana tulis merupakan wacana yang disampaikan secara tertulis melalui media tulis. Sedangkan wacana lisan adalah jenis wacana yang disampaikan secara lisan atau langsung dalam bahasa verbal (Mulyana, 2005:52). Jenis wacana ini sering disebut sebagai tuturan (speech) atau ujaran (utterance). Tarigan (1987: 55), berpendapat bahwa wacana lisan merupakan wacana yang disampaikan secara lisan melalui media lisan. Wacana tulis dapat kita temukan dalam bentuk buku, berita koran, artikel, makalah dan sebagainya, sedangkan wacana lisan misalnya percakapan khutbah, dan siaran langsung di radio atau TV.
Ciri wacana lisan dan ciri bahasa wacana tulis
1. Wacana lisan :
a). Kalimat dalam wacana lisan kurang terstruktur.
b). Bahasa lisan berisi beberapa kalimat yang tidak lengkap, dan
c). Sering hanya berupa urutan kata yang berbentuk frasa.
d). Penataan subordinatif wacana lisan lebih banyak dari pada wacana tulis.
e). Jarang menggunakan piranti hubung karena didukung oleh konteksnya.
f). Bahasanya cendrung tidak menggunakan frasa benda yang panjang.
g). Kalimatnya cenderung berstruktur subjek – predikat.
h). Pembicara dapat mengubah struktur atau memperhalus ekspresi yang kurang tepat.
 i). Pembicaraan cendrung menggunakan kosa kata sehari-hari.
 j). Bahasanya sering diulang bentuk sintaksis yang sama digunakan sejumlah pengisi.
     2. Wacana Tulis :
a). Kalimat cenderung lengkap dan panjang.
b). Bahkan terdiri dari beberapa klausa.
c). Penggunaan wacana tulis selalu dipantau dan direvisi oleh penulisnya.
d). Penataan subordinatif wacana tulis lebih banyak dari pada wacana lisan.
e). Sering menggunakan piranti hubung untuk menunjukan suatu hubungan ide.
f). Bahasanya menggunakan frasa benda (tetapi, namun, oleh sebab itu).
g). Kalimatnya menggunakan struktur topik-komen.
h). Tidak dapat mengubah struktur atau memperhalus ekspresi yang kurang tepat saat itu juga seperti wacana lisan.
i). Penulisannya sering menggunakan istilah teknis
j). Jarang menggunakan pemakaian”pengisi” dan pengulangan bentuk yang sama.
Jadi, yang membedakan wacana lisan dan wacana tulisan yakni wacana lisan merupakan wacana yang disampaikan secara lisan atau langsung dalam bahasa verbal (mulut/alat ucap). Wacana tulisan yakni jenis wacana yang disampaikan melalui media tulisan.
Terdapat beberapa fungsi ujaran, ujaran tersebut adalah instrumental, regulatori, interaksional, personal, heuristik, dan imajinatif. Fungsi-fungsi ujaran tersebut dijelaskan secara ringkas seperti berikut;
  1. Fungsi instrumental: yaitu menggunakan unsure bahasa untuk memenuhi kebutuhannya atau untuk mendapatkan layanan yang baik. Fungsi itu sering disebut fungsi “keinginan saya” .fungsi tersebut antara lain: (a) meminta suatu objek umum, (b) meminta makanan, dan (c) meminta objek khusus. Contoh:
Nina  :”Itu apa,Bu?” (menunjuk bungkusan yang dibawa ibu)
Ibu    :”Donat.”
Nina :”Minta,minta…!”
Ibu   :”Ambil satu”.
Bagian yang dicetak tebal tersebut merupakan ujaran yang tergolong sebagai ujaran pertama dalam pasangan ujaran terdekat. Ujaran itu termasuk tindak ujar permintaan sesuatu (yaitu objek khusus). Fungsi ujaran yang demikian itu termasuk fungsi instrumental.
   2. Fungsi regulatori: yaitu menggunakan unsure bahasa untuk mengontrol perilaku orang lain. Fungsi tersebut sering disebut “lakukan seperti yang kukatakan”. Fungsi itu seperti (a) meminta untuk melakukan suatu kegiatan,(b) meminta untuk melakukan tindakan yang khusus,(c) meminta izin melakukan sesuatu, dan (d) meminta untuk dibantu. Contoh:
Joni :”Ini mas sepedanya”.
Ari   :”sudah kamu cuci?”
Joni :”Sudah”.
Ari  :”Taruk situ dulu”.
Joni:”Ya”.
Bagian yang dicetak tebal di atas merupakan contoh ujaran yang berfungsi sebagai pengontrol perilaku mitra tutur. Ujaran itu merupakan tindak ujar perintah untuk melakukan suatu kegiatan.
   3.Fungsi interaksional: yaitu menggunakan unsur bahasa untuk melakukan hubungan timbale balik dengan yang lain. Fungsi tersebut juga disebut fungsi “kamu dan aku”. Fungsi itu antara lain: (a) salam pada seseorang,(b) mencari seseorang,(c) menemukan seseorang, dan (d) menunjukkan rasa simpati. Contoh:
Kama   :”Mbak,mbak! Dik rama jatuh,mbak”.
Nina     :”Ini,ya yang sakit?”
Rama   :”Ya”.
Bagian yang dicetak tebal pada contoh merupakan ujaran yang menunjukkan rasa simpati. Ujaran itu dimaksudkan untuk menunjukkan rasa simpati penutur terhadap mitra tuturnya. Ujaran itu memenuhi fungsi interaksional.
  4. Fungsi personal : yaitu menggunakan unsur bahasa untuk mengeksperikan keunikan dirinya. Fungsi tersebut disebut juga fungsi “ini aku ada”(here l come’function). Fungsi itu antara lain: (a) berkomentar pada objek yang tampak, (b) berkomentar pada objek yang tidak tampak, dan, (c) ekspresi perasaan seperti rasa tertarik, senang, keheranan, lucu, jengkel, dan mengingatkan. Contoh:
Tamu   :”Hujan-hujan begini yang hangat-hangat enak,ya?”
Ayah  :”Lho,bu kopinya? Walah-walah,bu,kok ora ngrewes awak-awak” (‘Aduh- aduh,bu,kok tidak memperhatikan kita’)
Ibu        :”Oh,ya sampai lupa.Ntar,masak air dulu”.
Pada contoh bagian yang dicetak tebal merupakan komentar terhadap peristiwa yang terjadi di sekitarnya. Komentar itu menunjukkan bahwa aku sebagai pembicara ada. Ujaran itu berfungsi untuk mengekspresikan perasaan diri pembicara.
  5. Heuristik : yaitu menggunakan unsure bahasa sebagai alat untuk mempelajari dunia sekelilingnya. Fungsi itu disebut juga fungsi “katakana padaku,mengapa” (Tell me why’function). Contoh fungsi tersebut antaralain: (a) minta informasi,(b) mengucapkan rasa terimakasih, dan (c) menirukan. Contoh:
       Ibu 1:”bagus sekali kainnya,jeng”.
Ibu 2:”terima kasih. Ini hadiah si menik, lho”.
Ibu 1:”si menik sekarang tinggal di mana to, jeng?”
Ibu 2:”ikut suaminya di pekalongan”.
Pada contoh bagian yang dicetak tebal merupakan ujaran yang berguna untuk meminta informasi. Ujaran itu merupakan contoh ujaran yang memenuhi fungsi heuristik.
   6.Imajinatif: yaitu menggunakan unsur bahasa sebagai alat untuk menciptakan sebuah lingkungn. Fungsi itu disebut juga fungsi “mri bermain” (Let’s prerend’function). Contoh fungsi tersebut antara lain: (a) bermain pura-pura dan (b) bersenandung atau bernyanyi. Contoh  di bawah ini merupakan percakapan anak-anak pada saat bermain.
Rama :”gambar apa?”
Nina  :”gambarnya dik rama jadi ibunya. Bapaknya ke kantor.”
Rama :”kantor…”(tertawa bersama-sama)
Pada contoh bagian yang dicetak tebal merupakan ujaran yang memenuhi fungsi imajinatif. Ujaran itu adalah ujaran pura-pura.
        Funsi –fungsi bahasa yang ditunjukkan dalam percakapan di atas tampak pada pasangan ujaran seperti bagian di bawah ini.
1.      Pasangan Tanya jawab
Pasangan Tanya jawab merupakan dua pasangan ujaran yang berupa pertanyaan dan jawaban. Ujaran yang pertama berupa kalimat pertanyaan dan ujaran yang kedua berupa jawaban. Contoh:
Dosen       :”kamu jadi cuti kuliah,ya?”
Mahasiswa:”iya,pak”.
Dosen       :”apa kamu tidak rugi waktu nanti?”
Mahasisawa:”tampaknya tidak ada jalan lain,pak”.
Pada pengalan ujaran yang dicetak tebal berupa pertanyaan dan ujaran yang mengikutinya merupakan jawaban atas pertanyaan itu.
       Berdasarkan jawaban yang diberikan ada dua macam jenis jawaban. Pertama,jawaban yang bersifat ajeg, yaitu jawaban yang lazim seperti biasanya. Jawaban itu sering dijumpai dalam percakapan sehari-hari di masyarakat (seperti contoh tersebut). Kedua ,jawaban yang bersifat kreatif (dalam keenam,1983 disebut novel utterances), yaitu ujaran jawaban yang logis,tetapi tidak sering dijumpai dalam percakapan sehari-hari. Pada jawaban seperti itu ada bagian yang dihilangkan(elipsis) dan kadang-kadang juga diperluas dengan informasi lain. Jawaban itu merupakan hasil tanggapan anak terhadap lingkungan. Contohnya seperti berikut.
Kakak:”win,kamarmu kok bau rokok? Belajar dari siapa kamu merokok?”
Adik:”bukan saya,mas. Ety itu,lho yang ngerokok”.
Jawaban adik pada contoh mengandung pengertian bahwa bukan adik yang merokok,tetapi orang lain (Ety). Jawaban itu bersifat kreatif sebab jawaban yang lazim dari pertanyaan itu adalah “saya belajar merokok dari si anu”. Jawaban adik di atas mengandung unsur pembelaan diri sebab si adik menafsirkan pertanyaan si kakak sebagai teguran. Seperti tampak pada contoh di atas,jawaban itu merupakan jawaban peluasan (extended).
2)      Pasangan pujian menerima dan menolak
         Pada percakapan sehari-hari juga dapat ditemukan pasangan ujaran terdekat yang berupa pujian penerimaan dan pujian penolakan, seperti contoh berikut.
Konteks: Rama menyanyi lagu “Naik Kereta Api”
Ibu         : “Dik Rama pinter nyanyi. Coba nyanyi Kereta Api lagi!”
Rama     : (menyanyi dan ibu mengikuti menyanyi)
Penggalan percakapan menunjukkan bahwa pujian ibu diterima baik oleh mitra tuturnya. Ini berarti bahwa pujian ditanggapi dengan respons yang diharapkan. Respons itu berupa tindakan nonverbal. Dibawah ini, contoh penggalan yang mengandung pujian seperti diatas, tetapi ditanggapi dengan penolakan.
Tante               : “Aduh, bagus sekali bajunya!”
Keponakan      : “Jelek, kok!”
Tante               : “Ini…ini bagus. Beli di mana? Di Mitra, ya?”
Keponakan      : “Ya!”
Penggalan percakapan menunjukkan bahwa pujian dari mitra tutur tidak selalu diterima. Pada contoh  tersebut pujian ditanggapi dengan respons penolakan.
3)      Pasangan keluhan-alasan
Keluhan merupakan tindak tutur yang diungkapkan karena pembicara tidak menyukai atau tidak puas atas sesuatu yang dilakukan atau ditampilkan oleh pendengarnya. Keluhan dalam percakapan dapat berpasangan dengan alasan seperti contoh di bawah ini.
Konteks : Nita menyobeki kertas
Ayah      : “Kok digituin!”
Nita        : “Ndak apa-apa disobek, ngge dolanan” (untuk mainan’)
Ayah      : “Ya.”
Pada contoh keluhan yang ditanggapi dengan sebuah alasan. Alasan itu merupakan usaha pendengar untuk membenarkan tindakannya. Pada contoh di atas, alasan itu dapat diterima oleh pembicara yang mengeluh.
4)      Pasangan ajakan persetujuan dan penolakan
Suatu ujaran digolongkan sebagai tindak tutur ajakan apabila ujaran itu dimaksudkan untuk mengajak pendengar untuk melakukan sesuatu. Dalam percakapan, jakan dapat diikuti oleh ujaran yang persetujuan dan penolakan. Di bawah ini, merupakan contoh tindak ujar ajakan berpasangan dengan persetujuan.
Ayah      : “Ayo, Bu kita njenguk Pak Soleh. Kabarnya terkena stroke lagi.”
Ibu         : “Lho, kapan? Ayo, kita ke sana nanti sore.”
Pada contoh ujaran ayah merupakan ujaran yang digolongkan ajakan. Ujaran itu diikuti oleh ujaran yang menunjukkan persetujuan. Contoh di bawah ini merupakan contoh ajakan yang berpasangan dengan penolakan.
                     Ayah           : “Ayo, anak-anak ikut kerumah Pak Soleh!”
                     Anak 1        : “Besok, aku ulangan BI.”
                    Anak 2         : “Aku lelah.”
Contoh Ayah mengajak anak-anak untuk ikut pergi ke rumah Pak Soleh, anak-anak secara tidak langsung dengan memberikan alasan penolakan tersebut. 
5)      Pasangan perintah penerimaan, penolakan, dan pembalikan
Dalam percakapan sehari-hari, ditemukan juga ujaran perintah yang berpasangan dengan penerimaan, penolakan, dan pembalikan. Dibawah ini merupakan contoh pasangan ujaran perintah dan penerimaan.
 Ayah     : “Ayo, anak-anak segera mandi! Sudah sore.”
Anak-anak   : “Ya, Yah.” (sambil berebut ke kamar mandi)
Pada contoh di atas, ujaran Ayah merupakan perintah agar anak-anak segera mandi. Perintah itu diterima oleh pendengarnya. Perintah juga dapat berpasangan dengan penolakan seperti contoh di bawah ini.

Ibu         : “Ada tamu! Bukakan pintunya!”
Anak      : “Zia tidak pakai baju, Bu. Naufal!”
Anak 2   : “Naufal sedang baca, Bu.”
Ibu         : “Anak-anak!” (teriak sambil marah)
Contoh menunjukkan bahwa perintah berpasangan dengan penolakan. Namun, penolakannya disampaikan dengan memerintahkan balik (lihat ujaran yang dicetak tebal).
6)      Pasangan tawaran penerimaan
Ujaran yang berupa tawaran dalam percakapan juga berpasangan dengan penerimaan. Pasangan ujaran tawaran penerimaan seperti tampak pada contoh berikut.
Nina       : “Siapa yang minta permen?” (berteriak)
Rama      : “Dik Rama, Dik Rama.”
Nina       : “Ini, kamu satu saja.”
Pada contoh di atas, Nina menawarkan permen pada Rama. Rama menjawab dengan penerimaan.
7)      Pasangan ujaran permintaan izin pengabulan dan penolakan
Pasangan ujaran terdekat yang berupa panggilan dan jawaban sering ditemukan dalam percakapan sehari-hari. Pasangan panggilan dan jawaban sering tampak pada contoh berikut.
Nina       : “Dina! Sini, lho!”
Dina       : ”Ada apa Mbak?”
Nina       : “Kita ngobrol-ngobrol aja.”
Bagian yang dicetak tebal di atas merupkan contoh pasangan panggilan dan jawaban.
8)      Pasangan ujaran permintan izin pengabulan dan penolakan
Dalam percakapan sehari-hari, permintaan izin dapat dikabulkan dan juga dapat ditolak. Pasangan permintaan izin dan pengabulan tampak pada contoh berikut. 
          Anak   : “Bu, aku pergi belajar ke tempat Ernin!” Ada tugas  kelompok.”
           Ibu        : “Hati-hati, ya. Nanti pulang jam berapa?”
           Anak    : ”Nggak terlalu malam, kok.”
Pada contoh bagian yang dicetak tebal merupkan contoh pasangan ujaran terdekat yang berupa permintaan izin dan pengabulan. Di bawah ini, dicontohkan pasanngan ujaran terdekat permintaan izin dan penolakan. Contoh:
Anak   : “Liburan cawu nanti saya diajak Mabak Cici kamping di lereng Semeru. Boleh, ya Bu?” 
Ibu    : “Sekarang kan musim hujan. Ibu kira ditunda saja, sampai selesai musim hujan.”
Anak        : “Ah, Ibu! Kan bawa tenda, Bu.”
Ibu           : “Iya, tapi bahaya tanah longsor tetap mengkhawatirkan.”
Bagian yang dicetak tebal pada contoh  merupakan pasangan ujaran terdekat yang berupa permintaan izin dan penolakan.
B.      Menganalisis monolog, dialog, dan polilog
Ada tiga jenis wacana berdasarkan jumlah peserta yang ikut ambil bagian sebagai pembicara, yaitu monolog, dialog dan polilog.
1.      Wacana Monolog
      Wacana monolog adalah jenis wacana yang dituturkan oleh satu orang
(Mulyana,2005:53).Ucapan terimakasih yang disampaikan ini merupakan contoh wacana monolog yang dituturkan oleh seorang siswa SMP berikut ini.
Yth. Bapak Kepala SMPN 1 Banjarmasin
Yth. Bapak dan Ibu Guru SMPN 1 Banjarmasin
Yth. Bapak dan Ibu Wali Murid
Yth. Rekan-rekan yang saya cintai
                                                    Assalamualaikun wr.wb
     Pagi hari yang berbahagia ini, perkenankanlah kami atas wakil nama lulusan mengajak hadirin untuk memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah Tuhan Yang Maha Kuasa, yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga kita dapat mengikuti acara perpisahan lulusan SMPN 1 Banjarmasin tahun ajaran 2014/2015.
     Hari ini merupakan hari yang berhagahia bagi kami karena telah menyelesaikan sebagian tugas yang harus kami selesaikan. Dengan acara perpisahan ini berarti kami telah diakui keberhasilan perjuangan dan doa kami selama kurang legih 3 tahun ini. Oleh sebab itu, pada kesempatan yang berbahagia ini kami tidak lupa mengucapkan banyak terima kasih kepada Bapak/Ibu Guru, Bapak/Ibu Staf Tata Usaha.
2.      Wacana Dialog atau Polilog
Dialog atau polilog yang terjadi dalam masyarakat bukan hanya sekedar pertukaran informasi. Melakukan dialaog polilog bertujuan lebih dari memberikan informasi pada mitra tuturnya. Untuk tujuan itu, para peserta dialog atau polilog harus menyadari tugas mereka dalam mengembangkan dialog atau polilog. Selain itu, para peserta dialog atau polilog pelu melakukan segala sesuatu yang dapat mendukung pengembangan dialog atau polilog sesuai dengan yang diinginkan. Menafsirkan dan memahami ujaran peserta lain merupakan contoh tugas peserta dialog atau polilog dalam mengembangkan dialog atau polilog. Bagi peserta yang berbicara, tugas utamanya adalah menciptakan ujaran agar mudah ditafsirkan dan mudah dipahami
Keenam dan Schieffelin ( 1983:79-80) mengidentifikasi tugas-tugas para peserta dialog atau polilog dalam percekapan. Tugas pendengar setidak-tidaknya seperti berikut ini :
a)    Memperhatikan ujaran pembicara
b)   Memahami ujaran pembicara
c)    Mengidentifikasi objek, individu,ide,peristiwa, dan lain-lain yang mempunyai peranan dalam penentuan topik, dan
d)   Mengidentifikasi hubungan semantic antara referensi dan topik
     Selanjutnya, tugas pembicara adalah sebagai berikut :
a)    Pembicara harus mengucapkan ujaran dengan jelas,
b)   Pembicara harus menjaga agar perhatian pendengar tetap tinggi,
c)    Pembicara harus menyediakan informasi yang memadai bagi pendengar untuk mengidentifikasi objek dan hal-hal lain sebagai bagian dari topic, dan
d)   Pembicara harus menyediakan informasi yang memadai bagi pendengar untuk merekontruksi hubungan semantic antara referensi dalam topik
Apabila tugas-tugas itu dapat dipenuhi maka dialog dan polilog dapat berlangsung seperti yang diharapkan.Untuk mengembangkan dialog dan polilog dengan baik, ada suatu panduan yang perlu diperhatikan . salah satu panduan itu dikemukan oleh Grice ( dalam Richard dan Scmidt, 1983:20-22) yang dikenal dengan nama prinsip kerja sama. Prinsip-prinsp itu dituangkan dalam empat prinsip-prinsip seperti berikut.
a)    Prinsip kuantitas: artinya hanya mengatakan sesuai dengan yang diperlukan.
b)   Prinsip kualitas: artinya hanya mengatakan yang benar dan betul
c)    Prinsip relasi: artinya hanya mengatakan sesuatu yang sesuia dan berhubungan dengan dibicarakan
d)   Prinsip cara: artinya mengatakan dengan cara jelas,sederhana,ringkas,runtut,dan tidak mendua arti.
Jika keempat prinsip kerjasama itu diperhatikan, dialog atau polilog akan dapat berkembang dan lebih menari. Prinsip tersebut merupakan suatu prinsip dialog atau polilog akan dapat berkembang dan lebih menarik. Prinsip tersebut merupakan suatu prinsip dialog atau polilog yang ideal. Dialog atau monolog yang berhasil biasanya juga mengikuti prinsip kesantunan ( politenes) . prinsip kesopanan itu dirumuskan menjadi tiga butir, yaitu (a) jangan maksa (b) berikan pilihan, dan (c) buat perasaan pendengar tetap baik.
Jadi, monolog merupakan jenis wacana yang dituturkan oleh satu orang, dialog merupakan jenis wacana yang dituturkan oleh dua orang, sedangkan polilog merupakan jenis wacana yang dituturkan oleh dua orang lebih.
Contoh Wacana  Dialog
Rudi : “ Bagaimana kalau kita ngomong ngomong?”
Rida : “ Yah, ngomong-ngomong apa nih,ya?”
Rudi : “music, baik juga.”
Rita : “ music, itu dunia saya. Sejak kecil,sudah main music.”
Sumber:
http://www.daniarta.com/contoh-percakapan-bahasa-indonesia-singkat-2-orang/
Tarigan, Henry G. 2009. Pengajaran Wacana. Bandung: Angkasa.















Tidak ada komentar:

Posting Komentar