wacana lisan dan tulisan
Menganalisis
monolog, dialog, polilog
Oleh: Sulistriani (156047) / 2015
A
A. Pendahuluan
Wacana
lisan dan tulisan dikatakan sebagai sebuah saluran berkomunikasi. wacana tulis merupakan wacana yang
disampaikan secara tertulis melalui media tulis. Sedangkan wacana lisan adalah
jenis wacana yang disampaikan secara lisan atau langsung dalam bahasa verbal. Wacana
lisan merupakan wacana yang disampaikan secara lisan melalui media lisan.
Wacana tulis dapat kita temukan dalam bentuk buku, berita koran, artikel,
makalah dan sebagainya, sedangkan wacana lisan misalnya percakapan khutbah, dan
siaran langsung di radio atau TV.
Alasan
dalam membuat essai makalah yang berjudul “Menganalisis wacana lisan dan
tulisan (Monolog, dialog, dan polilog)” yakni seseorang dalam memahami sebuah
wacana tidak hanya cukup mengetahui pengertian, dan bentuknya saja, akan tetapi
pemahaman tentang kajian wacana pun perlu diketahui sebagai pondasi atau
referensi dalam mengkaji wacana serta menganalisis dalam penerapan kehidupan
sehari-hari. Untuk itu, Tujuan penulisan ini yakni dapat dijadikan sebagai
bahan referensi bagi si pembaca dalam mengkaji sebuah wacana.
B. Kajian Teori
1. Definisi
A.
Menganalisis
wacana lisan dan tulisan
Berdasarkan saluran yang digunakan
dalam berkomunikasi, dibedakan menjadi wacana tulis dan wacana
lisan. Wacana tulis (written discourse) adalah jenis wacana yang
disampaikan melalui media tulisan (Mulyana, 2005: 51). Tarigan (1987: 52)
berpendapat bahwa wacana tulis merupakan wacana yang disampaikan secara
tertulis melalui media tulis. Sedangkan wacana lisan adalah jenis wacana yang
disampaikan secara lisan atau langsung dalam bahasa verbal (Mulyana, 2005:52).
Jenis wacana ini sering disebut sebagai tuturan (speech) atau ujaran (utterance).
Tarigan (1987: 55), berpendapat bahwa wacana lisan merupakan wacana yang
disampaikan secara lisan melalui media lisan. Wacana tulis dapat kita temukan
dalam bentuk buku, berita koran, artikel, makalah dan sebagainya,
sedangkan wacana lisan misalnya percakapan khutbah, dan siaran langsung di
radio atau TV.
Ciri wacana lisan dan ciri bahasa wacana tulis
1. Wacana lisan :
a). Kalimat dalam wacana lisan kurang terstruktur.
b). Bahasa lisan berisi beberapa kalimat yang tidak
lengkap, dan
c). Sering hanya berupa urutan kata yang berbentuk
frasa.
d). Penataan subordinatif wacana lisan lebih banyak dari
pada wacana tulis.
e). Jarang menggunakan piranti hubung karena didukung oleh
konteksnya.
f). Bahasanya cendrung tidak menggunakan frasa benda yang
panjang.
g). Kalimatnya cenderung berstruktur subjek – predikat.
h). Pembicara dapat mengubah struktur atau
memperhalus ekspresi yang kurang tepat.
i). Pembicaraan
cendrung menggunakan kosa kata sehari-hari.
j). Bahasanya
sering diulang bentuk sintaksis yang sama digunakan sejumlah pengisi.
2. Wacana
Tulis :
a). Kalimat cenderung lengkap dan panjang.
b). Bahkan terdiri dari beberapa klausa.
c). Penggunaan wacana tulis selalu dipantau dan direvisi
oleh penulisnya.
d). Penataan subordinatif wacana tulis lebih banyak dari
pada wacana lisan.
e). Sering menggunakan piranti hubung untuk menunjukan
suatu hubungan ide.
f). Bahasanya menggunakan frasa benda (tetapi, namun, oleh
sebab itu).
g). Kalimatnya menggunakan struktur topik-komen.
h). Tidak dapat mengubah struktur atau memperhalus
ekspresi yang kurang tepat saat itu juga seperti wacana lisan.
i). Penulisannya sering menggunakan istilah teknis
j). Jarang menggunakan pemakaian”pengisi” dan pengulangan
bentuk yang sama.
Jadi, yang membedakan wacana lisan dan wacana tulisan
yakni wacana lisan merupakan wacana yang disampaikan secara lisan atau langsung
dalam bahasa verbal (mulut/alat ucap). Wacana tulisan yakni jenis wacana yang
disampaikan melalui media tulisan.
Terdapat
beberapa fungsi ujaran, ujaran tersebut adalah instrumental, regulatori,
interaksional, personal, heuristik, dan imajinatif. Fungsi-fungsi ujaran
tersebut dijelaskan secara ringkas seperti berikut;
1. Fungsi instrumental:
yaitu menggunakan unsure bahasa untuk memenuhi kebutuhannya atau untuk
mendapatkan layanan yang baik. Fungsi itu sering disebut fungsi “keinginan
saya” .fungsi tersebut antara lain: (a) meminta suatu objek umum, (b) meminta
makanan, dan (c) meminta objek khusus. Contoh:
Nina :”Itu apa,Bu?” (menunjuk bungkusan yang
dibawa ibu)
Ibu :”Donat.”
Nina
:”Minta,minta…!”
Ibu :”Ambil satu”.
Bagian
yang dicetak tebal tersebut merupakan ujaran yang tergolong sebagai ujaran
pertama dalam pasangan ujaran terdekat. Ujaran itu termasuk tindak ujar
permintaan sesuatu (yaitu objek khusus). Fungsi ujaran yang demikian itu
termasuk fungsi instrumental.
2. Fungsi regulatori: yaitu menggunakan unsure bahasa untuk mengontrol
perilaku orang lain. Fungsi tersebut sering disebut “lakukan seperti yang
kukatakan”. Fungsi itu seperti (a) meminta untuk melakukan suatu kegiatan,(b)
meminta untuk melakukan tindakan yang khusus,(c) meminta izin melakukan
sesuatu, dan (d) meminta untuk dibantu. Contoh:
Joni
:”Ini mas sepedanya”.
Ari :”sudah kamu cuci?”
Joni
:”Sudah”.
Ari :”Taruk situ dulu”.
Joni:”Ya”.
Bagian
yang dicetak tebal di atas merupakan contoh ujaran yang berfungsi sebagai
pengontrol perilaku mitra tutur. Ujaran itu merupakan tindak ujar perintah
untuk melakukan suatu kegiatan.
3.Fungsi interaksional: yaitu menggunakan unsur bahasa untuk melakukan hubungan
timbale balik dengan yang lain. Fungsi tersebut juga disebut fungsi “kamu dan
aku”. Fungsi itu antara lain: (a) salam pada seseorang,(b) mencari
seseorang,(c) menemukan seseorang, dan (d) menunjukkan rasa simpati. Contoh:
Kama :”Mbak,mbak! Dik rama jatuh,mbak”.
Nina :”Ini,ya yang sakit?”
Rama :”Ya”.
Bagian
yang dicetak tebal pada contoh merupakan ujaran yang menunjukkan rasa simpati.
Ujaran itu dimaksudkan untuk menunjukkan rasa simpati penutur terhadap mitra
tuturnya. Ujaran itu memenuhi fungsi interaksional.
4. Fungsi personal : yaitu menggunakan unsur bahasa untuk mengeksperikan
keunikan dirinya. Fungsi tersebut disebut juga fungsi “ini aku ada”(here l
come’function). Fungsi itu antara lain: (a) berkomentar pada objek yang
tampak, (b) berkomentar pada objek yang tidak tampak, dan, (c) ekspresi
perasaan seperti rasa tertarik, senang, keheranan, lucu, jengkel, dan
mengingatkan. Contoh:
Tamu
:”Hujan-hujan begini yang hangat-hangat
enak,ya?”
Ayah :”Lho,bu kopinya? Walah-walah,bu,kok
ora ngrewes awak-awak” (‘Aduh- aduh,bu,kok tidak memperhatikan kita’)
Ibu :”Oh,ya sampai lupa.Ntar,masak air
dulu”.
Pada
contoh bagian yang dicetak tebal merupakan komentar terhadap peristiwa yang
terjadi di sekitarnya. Komentar itu menunjukkan bahwa aku sebagai pembicara
ada. Ujaran itu berfungsi untuk mengekspresikan perasaan diri pembicara.
5. Heuristik : yaitu menggunakan unsure bahasa sebagai alat untuk
mempelajari dunia sekelilingnya. Fungsi itu disebut juga fungsi “katakana
padaku,mengapa” (Tell me why’function). Contoh fungsi tersebut
antaralain: (a) minta informasi,(b) mengucapkan rasa terimakasih, dan (c)
menirukan. Contoh:
Ibu
1:”bagus sekali kainnya,jeng”.
Ibu 2:”terima
kasih. Ini hadiah si menik, lho”.
Ibu
1:”si menik sekarang tinggal di mana to, jeng?”
Ibu
2:”ikut suaminya di pekalongan”.
Pada
contoh bagian yang dicetak tebal merupakan ujaran yang berguna untuk meminta
informasi. Ujaran itu merupakan contoh ujaran yang memenuhi fungsi heuristik.
6.Imajinatif: yaitu menggunakan unsur bahasa sebagai alat untuk
menciptakan sebuah lingkungn. Fungsi itu disebut juga fungsi “mri bermain” (Let’s
prerend’function). Contoh fungsi tersebut antara lain: (a) bermain
pura-pura dan (b) bersenandung atau bernyanyi. Contoh di bawah ini merupakan percakapan anak-anak
pada saat bermain.
Rama
:”gambar apa?”
Nina :”gambarnya dik rama jadi ibunya. Bapaknya
ke kantor.”
Rama
:”kantor…”(tertawa bersama-sama)
Pada
contoh bagian yang dicetak tebal merupakan ujaran yang memenuhi fungsi
imajinatif. Ujaran itu adalah ujaran pura-pura.
Funsi –fungsi bahasa yang ditunjukkan
dalam percakapan di atas tampak pada pasangan ujaran seperti bagian di bawah
ini.
1.
Pasangan Tanya jawab
Pasangan
Tanya jawab merupakan dua pasangan ujaran yang berupa pertanyaan dan jawaban.
Ujaran yang pertama berupa kalimat pertanyaan dan ujaran yang kedua berupa
jawaban. Contoh:
Dosen :”kamu jadi cuti kuliah,ya?”
Mahasiswa:”iya,pak”.
Dosen :”apa
kamu tidak rugi waktu nanti?”
Mahasisawa:”tampaknya
tidak ada jalan lain,pak”.
Pada
pengalan ujaran yang dicetak tebal berupa pertanyaan dan ujaran yang
mengikutinya merupakan jawaban atas pertanyaan itu.
Berdasarkan jawaban yang diberikan ada
dua macam jenis jawaban. Pertama,jawaban yang bersifat ajeg, yaitu jawaban yang
lazim seperti biasanya. Jawaban itu sering dijumpai dalam percakapan
sehari-hari di masyarakat (seperti contoh tersebut). Kedua ,jawaban yang
bersifat kreatif (dalam keenam,1983 disebut novel utterances), yaitu ujaran
jawaban yang logis,tetapi tidak sering dijumpai dalam percakapan sehari-hari.
Pada jawaban seperti itu ada bagian yang dihilangkan(elipsis) dan kadang-kadang
juga diperluas dengan informasi lain. Jawaban itu merupakan hasil tanggapan
anak terhadap lingkungan. Contohnya seperti berikut.
Kakak:”win,kamarmu
kok bau rokok? Belajar dari siapa kamu merokok?”
Adik:”bukan
saya,mas. Ety itu,lho yang ngerokok”.
Jawaban
adik pada contoh mengandung pengertian bahwa bukan adik yang merokok,tetapi
orang lain (Ety). Jawaban itu bersifat kreatif sebab jawaban yang lazim
dari pertanyaan itu adalah “saya belajar merokok dari si anu”. Jawaban adik
di atas mengandung unsur pembelaan diri sebab si adik menafsirkan
pertanyaan si kakak sebagai teguran. Seperti tampak pada contoh di
atas,jawaban itu merupakan jawaban peluasan (extended).
2)
Pasangan pujian
menerima dan menolak
Pada percakapan sehari-hari juga dapat
ditemukan pasangan ujaran terdekat yang berupa pujian penerimaan dan pujian
penolakan, seperti contoh berikut.
Konteks: Rama menyanyi lagu “Naik Kereta
Api”
Ibu : “Dik Rama pinter nyanyi. Coba nyanyi Kereta Api lagi!”
Rama : (menyanyi
dan ibu mengikuti menyanyi)
Penggalan
percakapan menunjukkan bahwa pujian ibu diterima baik oleh mitra tuturnya. Ini
berarti bahwa pujian ditanggapi dengan respons yang diharapkan. Respons itu
berupa tindakan nonverbal. Dibawah ini, contoh penggalan yang mengandung pujian
seperti diatas, tetapi ditanggapi dengan penolakan.
Tante : “Aduh, bagus
sekali bajunya!”
Keponakan : “Jelek, kok!”
Tante : “Ini…ini
bagus. Beli di mana? Di Mitra, ya?”
Keponakan : “Ya!”
Penggalan
percakapan menunjukkan bahwa pujian dari mitra tutur tidak selalu diterima.
Pada contoh tersebut pujian ditanggapi
dengan respons penolakan.
3)
Pasangan keluhan-alasan
Keluhan
merupakan tindak tutur yang diungkapkan karena pembicara tidak menyukai atau
tidak puas atas sesuatu yang dilakukan atau ditampilkan oleh pendengarnya.
Keluhan dalam percakapan dapat berpasangan dengan alasan seperti contoh di
bawah ini.
Konteks : Nita menyobeki kertas
Ayah : “Kok digituin!”
Nita : “Ndak apa-apa disobek, ngge
dolanan” (untuk mainan’)
Ayah : “Ya.”
Pada contoh
keluhan yang ditanggapi dengan sebuah alasan. Alasan itu merupakan usaha
pendengar untuk membenarkan tindakannya. Pada contoh di atas, alasan itu dapat
diterima oleh pembicara yang mengeluh.
4)
Pasangan ajakan
persetujuan dan penolakan
Suatu
ujaran digolongkan sebagai tindak tutur ajakan apabila ujaran itu dimaksudkan
untuk mengajak pendengar untuk melakukan sesuatu. Dalam percakapan, jakan dapat
diikuti oleh ujaran yang persetujuan dan penolakan. Di bawah ini, merupakan
contoh tindak ujar ajakan berpasangan dengan persetujuan.
Ayah : “Ayo, Bu kita njenguk Pak Soleh. Kabarnya terkena
stroke lagi.”
Ibu : “Lho, kapan? Ayo, kita ke sana nanti sore.”
Pada contoh
ujaran ayah merupakan ujaran yang digolongkan ajakan. Ujaran itu diikuti oleh
ujaran yang menunjukkan persetujuan. Contoh di bawah ini merupakan contoh
ajakan yang berpasangan dengan penolakan.
Ayah : “Ayo, anak-anak ikut kerumah Pak Soleh!”
Anak 1 : “Besok, aku ulangan BI.”
Anak 2 : “Aku lelah.”
Contoh Ayah
mengajak anak-anak untuk ikut pergi ke rumah Pak Soleh, anak-anak secara tidak
langsung dengan memberikan alasan penolakan tersebut.
5)
Pasangan perintah
penerimaan, penolakan, dan pembalikan
Dalam
percakapan sehari-hari, ditemukan juga ujaran perintah yang berpasangan dengan
penerimaan, penolakan, dan pembalikan. Dibawah ini merupakan contoh pasangan
ujaran perintah dan penerimaan.
Ayah :
“Ayo, anak-anak segera mandi! Sudah sore.”
Anak-anak : “Ya, Yah.” (sambil berebut ke kamar mandi)
Pada contoh
di atas, ujaran Ayah merupakan perintah agar anak-anak segera mandi. Perintah
itu diterima oleh pendengarnya. Perintah juga dapat berpasangan dengan
penolakan seperti contoh di bawah ini.
Ibu : “Ada tamu! Bukakan
pintunya!”
Anak : “Zia tidak pakai baju,
Bu. Naufal!”
Anak 2 : “Naufal sedang baca, Bu.”
Ibu : “Anak-anak!” (teriak sambil marah)
Contoh
menunjukkan bahwa perintah berpasangan dengan penolakan. Namun, penolakannya
disampaikan dengan memerintahkan balik (lihat ujaran yang dicetak tebal).
6)
Pasangan tawaran
penerimaan
Ujaran yang
berupa tawaran dalam percakapan juga berpasangan dengan penerimaan. Pasangan
ujaran tawaran penerimaan seperti tampak pada contoh berikut.
Nina : “Siapa yang minta
permen?” (berteriak)
Rama : “Dik Rama, Dik Rama.”
Nina : “Ini, kamu satu saja.”
Pada contoh
di atas, Nina menawarkan permen pada Rama. Rama menjawab dengan penerimaan.
7)
Pasangan ujaran
permintaan izin pengabulan dan penolakan
Pasangan
ujaran terdekat yang berupa panggilan dan jawaban sering ditemukan dalam
percakapan sehari-hari. Pasangan panggilan dan jawaban sering tampak pada
contoh berikut.
Nina : “Dina! Sini, lho!”
Dina : ”Ada apa Mbak?”
Nina : “Kita ngobrol-ngobrol aja.”
Bagian yang dicetak tebal di atas merupkan contoh pasangan panggilan dan
jawaban.
8)
Pasangan ujaran
permintan izin pengabulan dan penolakan
Dalam percakapan
sehari-hari, permintaan izin dapat dikabulkan dan juga dapat ditolak. Pasangan
permintaan izin dan pengabulan tampak pada contoh berikut.
Anak
: “Bu, aku pergi belajar ke
tempat Ernin!” Ada tugas kelompok.”
Ibu :
“Hati-hati, ya. Nanti pulang jam
berapa?”
Anak :
”Nggak terlalu malam, kok.”
Pada contoh
bagian yang dicetak tebal merupkan contoh pasangan ujaran terdekat yang berupa
permintaan izin dan pengabulan. Di bawah ini, dicontohkan pasanngan ujaran
terdekat permintaan izin dan penolakan. Contoh:
Anak : “Liburan cawu nanti saya diajak Mabak Cici kamping di lereng Semeru.
Boleh, ya Bu?”
Ibu : “Sekarang kan musim hujan. Ibu kira ditunda
saja, sampai selesai musim hujan.”
Anak : “Ah, Ibu! Kan bawa tenda, Bu.”
Ibu :
“Iya, tapi bahaya tanah longsor tetap
mengkhawatirkan.”
Bagian yang dicetak tebal pada contoh
merupakan pasangan ujaran terdekat yang berupa permintaan izin dan
penolakan.
B. Menganalisis monolog, dialog, dan polilog
Ada tiga jenis wacana
berdasarkan jumlah peserta yang ikut ambil bagian sebagai pembicara, yaitu
monolog, dialog dan polilog.
1.
Wacana
Monolog
Wacana monolog
adalah jenis wacana yang dituturkan oleh satu orang
(Mulyana,2005:53).Ucapan terimakasih yang disampaikan
ini merupakan contoh wacana monolog yang dituturkan oleh seorang siswa SMP
berikut ini.
Yth. Bapak Kepala SMPN 1 Banjarmasin
Yth. Bapak dan Ibu Guru SMPN 1 Banjarmasin
Yth. Bapak dan Ibu Wali Murid
Yth. Rekan-rekan yang saya cintai
Assalamualaikun wr.wb
Pagi hari yang berbahagia
ini, perkenankanlah kami atas wakil nama lulusan mengajak hadirin untuk
memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah Tuhan Yang Maha Kuasa, yang telah melimpahkan
rahmat dan hidayah-Nya sehingga kita dapat mengikuti acara perpisahan lulusan
SMPN 1 Banjarmasin tahun ajaran 2014/2015.
Hari ini merupakan hari yang
berhagahia bagi kami karena telah menyelesaikan sebagian tugas yang harus kami
selesaikan. Dengan acara perpisahan ini berarti kami telah diakui keberhasilan
perjuangan dan doa kami selama kurang legih 3 tahun ini. Oleh sebab itu, pada
kesempatan yang berbahagia ini kami tidak lupa mengucapkan banyak terima kasih
kepada Bapak/Ibu Guru, Bapak/Ibu Staf Tata Usaha.
2.
Wacana
Dialog atau Polilog
Dialog atau
polilog yang terjadi dalam masyarakat bukan hanya sekedar pertukaran informasi.
Melakukan dialaog polilog bertujuan lebih dari memberikan informasi pada mitra
tuturnya. Untuk tujuan itu, para peserta dialog atau polilog harus menyadari
tugas mereka dalam mengembangkan dialog atau polilog. Selain itu, para peserta
dialog atau polilog pelu melakukan segala sesuatu yang dapat mendukung
pengembangan dialog atau polilog sesuai dengan yang diinginkan. Menafsirkan dan
memahami ujaran peserta lain merupakan contoh tugas peserta dialog atau polilog
dalam mengembangkan dialog atau polilog. Bagi peserta yang berbicara, tugas
utamanya adalah menciptakan ujaran agar mudah ditafsirkan dan mudah dipahami
Keenam dan
Schieffelin ( 1983:79-80) mengidentifikasi tugas-tugas para peserta dialog atau
polilog dalam percekapan. Tugas pendengar setidak-tidaknya seperti berikut ini
:
a)
Memperhatikan ujaran
pembicara
b)
Memahami ujaran
pembicara
c)
Mengidentifikasi objek,
individu,ide,peristiwa, dan lain-lain yang mempunyai peranan dalam penentuan
topik, dan
d)
Mengidentifikasi
hubungan semantic antara referensi dan topik
Selanjutnya, tugas pembicara
adalah sebagai berikut :
a)
Pembicara harus
mengucapkan ujaran dengan jelas,
b)
Pembicara harus menjaga
agar perhatian pendengar tetap tinggi,
c)
Pembicara harus
menyediakan informasi yang memadai bagi pendengar untuk mengidentifikasi objek
dan hal-hal lain sebagai bagian dari topic, dan
d)
Pembicara harus
menyediakan informasi yang memadai bagi pendengar untuk merekontruksi hubungan
semantic antara referensi dalam topik
Apabila
tugas-tugas itu dapat dipenuhi maka dialog dan polilog dapat berlangsung
seperti yang diharapkan.Untuk mengembangkan dialog dan polilog dengan baik, ada
suatu panduan yang perlu diperhatikan . salah satu panduan itu dikemukan oleh
Grice ( dalam Richard dan Scmidt, 1983:20-22) yang dikenal dengan nama prinsip
kerja sama. Prinsip-prinsp itu dituangkan dalam empat prinsip-prinsip seperti
berikut.
a)
Prinsip kuantitas: artinya
hanya mengatakan sesuai dengan yang diperlukan.
b)
Prinsip kualitas:
artinya hanya mengatakan yang benar dan betul
c)
Prinsip relasi: artinya
hanya mengatakan sesuatu yang sesuia dan berhubungan dengan dibicarakan
d)
Prinsip cara: artinya
mengatakan dengan cara jelas,sederhana,ringkas,runtut,dan tidak mendua arti.
Jika
keempat prinsip kerjasama itu diperhatikan, dialog atau polilog akan dapat
berkembang dan lebih menari. Prinsip tersebut merupakan suatu prinsip dialog
atau polilog akan dapat berkembang dan lebih menarik. Prinsip tersebut
merupakan suatu prinsip dialog atau polilog yang ideal. Dialog atau monolog
yang berhasil biasanya juga mengikuti prinsip kesantunan ( politenes) . prinsip
kesopanan itu dirumuskan menjadi tiga butir, yaitu (a) jangan maksa (b) berikan
pilihan, dan (c) buat perasaan pendengar tetap baik.
Jadi, monolog merupakan jenis wacana yang dituturkan oleh satu orang, dialog
merupakan jenis wacana yang dituturkan oleh dua orang, sedangkan polilog
merupakan jenis wacana yang dituturkan oleh dua orang lebih.
Contoh Wacana Dialog
Rudi
: “ Bagaimana kalau kita ngomong ngomong?”
Rida
: “ Yah, ngomong-ngomong apa nih,ya?”
Rudi
: “music, baik juga.”
Rita
: “ music, itu dunia saya. Sejak kecil,sudah main music.”
Sumber:
http://www.daniarta.com/contoh-percakapan-bahasa-indonesia-singkat-2-orang/
Tarigan, Henry
G. 2009. Pengajaran Wacana. Bandung: Angkasa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar