Selasa, 10 Juli 2018

Analisis Wacana Model Teun A Van Djik 11


Analisis Wacana Model Teun A. Van Dijk
Oleh: Sulistriani (156047) / 2015 A 
A. Pendahuluan
Bahasa merupakan sebuah sistem lambang bunyi yang digunakan oleh suatu  masyarakat untuk bekerja sama,  berinteraksi, dan  mengidentifikasi diri. Chaer (2003:267) mengatakan bahwa wacana adalah satuan bahasa yang lengkap, sehingga dalam hierarki gramatikal merupakan satuan gramatikal tertinggi atau terbesar. Wacana terdiri dari banyak paragraf. Maksudnya, terdiri dari lebih satu kalimat. Dengan kesatuan makna, wacana dapat dilihat sebagai sesuatu yang utuh,  karena setiap bagiannya saling berhubungan satu sama lain secara padu.
Studi bahasa mencakup seluruh aspek dan komponen kebahasaan yang ada sesuai dengan kenyataan dalam pemakaian bahasa. Pendekatan linguistik dan gramatikal bahasa dirasakan oleh para ahli memiliki keterbatasan- keterbatasan dalam studi bahasa, terutama pada kesesuaian dengan kenyataan pemakaian bahasa, karena hanya mampu meganalisis dan mengungkapkan persoalan bahasa sampai pada tataran gramatikal. Padahal, aspek kebahasaan berupa wacana sangat penting dan tidak kalah penting jika dibandingkan dengan aspek kebahasaan yang lain. Berdasarkan hal tersebut, pengkajian bahasa melalui pendekatan pragmatik terhadap komponen kebahasaan yang lebih besar, yaitu wacana.  
Alasan dalam membuat essai makalah yang berjudul “Analisis Wacana Model Teun A. Van Dijk” yakni lebih mempermuda seseorang dalam mengenali model analisis wacana menurut Teun A. Van Dijk dan memberi pengetahuan dalam menerapkan analisis wacana yang dikembangkan oleh Teun A. Van Dijk.  Untuk itu, Tujuan penulisan ini yakni dapat dijadikan sebagai bahan referensi bagi si pembaca dalam mengkaji sebuah wacana. 
     B. Kajian Teori
 1. Definisi
A. Analisis Wacana Model Teun A. Van Dijk
Van Dijk mengemukakan analisis wacana adalah bangun teoretis yang abstrak. Dengan begitu, wacana belum dapat dilihat sebagai perwujudan fisik bahasa. Adapun perwujudan bahasa adalah teks (Badara, 2013: 16). Dari sekian banyak analisis kritik wacana yang diperkenalkan dan dikembangkan oleh beberapa ahli model Van Dijk adalah model yang paling banyak dipakai. Hal ini kemungkinan karena Van Dijk mengkolaborasikan elemen-elemen wacana sehingga bisa didayagunakan dan dipakai secara praktis. Model Van Dijk ini sering disebut sebagai “kognisi social”. Nama pendekatan ini tidak dapat dilepasakan Van Dijk. Menurut Van Dijk penelitian atas wacana tidak hanya cukup berdasarkan pada analisis teks semata, karena teks hanyalah merupakan hasil dari suatu praktik produksi yang harus juga diamati.
Perhatian Van Dijk lebih dominan pada studi mengenai rasialisme. Banyak sekali rasialisme yang diwujudkan dan diekspresikan melalui tulisan. Contohnya dapat dilihat dari percakapan sehari-hari, wawancara kerja , rapat guru, debat di parlemen, propaganda politik, periklanan, artikel ilmiah, editorial, berita, foto, film, dan lain-lain. Dari berbagai teks tersebut kelompok bawah digambarkan secara buruk, kelompok minoritas juga digambarkan tidak sebagaimana mestinya, yang dinyatakan dengan cara yang meyakinkan, nampak sebagai kewajaran, masuk akal, alamiah, dan terlihat sah.
Gambaran teks yang demikian bermakna dua. Pertama, secara umum menunjukkan bagaimana kesadaran mental masyarakat barat bekerja. Mereka tidak sadar bahwa pemikiran-pemikiran mereka dikuasai pikiran-pikiran yang rasis, dengan tidak sadar mereka memandang rendah kelompok minoritas. Ketidaksadaran ini adalah praktik-praktik sehari-hari, bagaimana orang kulit hitam dan kelompok-kelompok minoritas diperlakukan dijalan, ditempat kerja , dan di toko-toko. Keadaan sehari-hari yang berulang kali terakumulasi sehingga menghasilkan pikiran dan kognisi yang memandang rendah kelompok minoritas.
Kedua, menggunakan bagaimana wacana rasialisme ini diperkuat dan dipaparkan, misalnya dalam teks media. Bagaimana teks media menempatkan rasialisme, sehingga tampak sebagai kewajaran, media membentuk suatu konsesus dan pembenaran bahwa seperti itulah kenyataannya. Berbagai masalah yang kompleks dan rumit itulah yang dicobadigambarkan oleh model Van Dijk. Oleh karena itu van Dijk tidak mengekslusi modelnya. Ia juga melihat bagaimana struktur social, dominasi, dan kelompok kekuasaan yang ada dalam masyarakat, dan bagaimana kognisi dan kesadaran membentuk serta berpengaruh terhadap teks tertentu.
Van Dijk menggambarkan bahwasannya wacana mempunyai tiga dimensi yaitu teks, kognisi sosial, dan konteks sosial. Van Dijk menggabungkan tiga dimensi wacana tersebut kedalam suatu kesatuan analisis. Teks, yang diteliti adalah bagaimana struktur teks dan strategi wacana dipakai untuk menegaskan suatu tema tertentu. Kognisi social mempelajari proses induksi teks berita yang melibatkan kognisi individudari wartawan. Aspek ketiga yaitu kritik social yang mempelajari bangunan wacana yang berkembang dalam masyarakat akan suatu masalah. Model analisis Van Dijk ini bisa digambarkan sebagai berikut:
Gambar 2.1
Model Analisis Teun A. Van Dijk
Sumber : Buku Analisis Wacana, Eriyanto
Tabel 2.2
Kerangka Analisis Teun A. Van Dijk
STRUKTUR
METODE
Teks :  Menganalisis bagaimana strategi
wacana yang dipakai untuk
menggambarkan warga di perbatasan.
Bagaimana strategi tekstual yang dipakai
untuk menggambarkan warga di
perbatasan.
Critical linguistics
Kognisi Sosial  : Menganalisis bagaimana kognisi wartawan dalam memahami keadaan warga perbatasan yang dia tulis.
Wawancara mendalam
Analisis Sosial  : Menganalisis bagaimana wacana yang berkembang dalam masyarakat. Proses produksi dan
reproduksi seseorang atau peristiwa
digambarkan.
Studi pustaka
Sumber : Buku Analisis Wacana, Eriyanto
Van Dijk melihat suatu teks terdiri atas beberapa struktur atau tingkatan yang masing-masing bagian yang saling mendukung. Ia membaginya kedalam 3 tingkatan. Pertama, struktur makro. Ini merupakan makna global dari suatu teks  yang dapat diamati dengan melihat topik atau tema yang dikedepankan dalam suatu berita. Kedua, superstruktur. Ini merupakan struktur wacana yang berhubungan dengan kerangka suatu teks, bagaimana bagian-bagian teks tersusun ke dalam berita secara utuh. Ketiga, struktur mikro. Ini merupakan makna wacana yang dapat diamati dari bagian kecil dari suatu teks yakni kata, kalimat, proposisi, anak kalimat, paraphrase, dan gambar.
Menurut Van Dijk, meskipun terdiri dari atas berbagai elemen, semua elemen tersebut merupakan  suatu kesatuan, saling berhubungan dan mendukung satu sama lainnya. Makna global dari suatu teks (tema) didukung oleh kerangka teks, pada akhirnya pilihan kata dan kalimat yang dipakai. Pada tingkat yang lebih rendah, akan dijumpai pemakaian kata-kata yang  menunjuk dan memperkuat pesan. Menurut Littejohn, antar bagian teks dan model Van Dijk dilihat saling mendukung, mengandung arti yang koheren satu sama lain. Hal ini karena semua teks dipandang Van Dijk memiliki suatu aturan yang dapat dilihat sebagai suatu piramida. Makna global dari suatu teks didukung oleh kata, kalimat dan proposisi yang dipakai. Pertanyaan atau tema pada level umum didukung oleh pilihan kata, kalimat atau retorika tertentu.
Proses ini membantu peneliti untuk mengamati bagaimana suatu teks  terbangun oleh elemen-elemen yang lebih kecil. Skema ini juga memberikan peta untuk mempelajari suatu teks. Kita tidak hanya mengerti apa isi dari suatu teks  berita,  tetapi juga elemen yang membentuk teks berita, kata, kalimat, paragraf, dan proposisi melalui retorika tertentu. Jika digambarkan maka skema struktur teks menurut Van Dijk sebagai berikut:
Tabel 2.3
Struktur Teks Teun A. Van Dijk
Struktur Makro
Makna global dari suatu teks yang dapat diamati dari
topik atau tema yang diangkat oleh suatau teks
Superstruktur
Kerangka suatu teks, seperti bagian pendahuluan, isi,
penutup, dan keseimpulan.
Struktur Mikro
Makna lokal dari suatu teks yang dapat diamati dari
pilihan kata, kalimat dan gaya yang diapakai oleh
suatu teks.
Pemakaian kata, kalimat, proposisisi, retorika tertentu merupakan bagian strategi wartawan. Pemakaian kata-kata tertentu, kalimat, gaya tertentu dianggap sebagai cara memengaruhi pendapat umum, menciptakan dukungan, memperkuat legitimasi, dan menyingkirkan lawan. Struktur wacana adalah cara melihat proses retorika dan persuasi yang digunakan seseorang menyampaikan pesan.
Kata-kata tertentu mungkin dipilih untuk mempertegas pilihan dan sikap, membentuk kesadaran politik, dan sebagainya. (Eriyanto 2007 : 28). Uraian elemen wacana Van Dijk digambarkan sebagai berikut :




Tabel 2.4
Elemen Wacana Teun A. Van Dijk
Struktur Wacana
Hal yang Diamati
Elemen
Struktur Makro
TEMATIK
Tema atau topik yang dikedepankan dalam suatu berita
Topik
Superstruktur
SKEMATIK
Bagaimana bagian dan urutan berita diskemakan dalam teks berita utuh
Skema atau alur


Struktur Mikro
SEMANTIK
Makna yang ingin ditekankan dalam teks berita. Misal, dengan memberi detil pada satu sisi atau membuat eksplisit satu sisi dan mengurangi sisi lain
Latar, Detil,
Maksud,
Praanggapan,
Nominalisasi
SINTAKSIS
Bagaimana kalimat (bentuk, susunan) yang dipilih
Bentuk kalimat,
Koherensi, Kata
ganti
STILISTIK
Bagaimana pilihan kata yang dipakai dalam teks berita
Leksikon
RETORIS
Bagaimana dan dengan cara penekanan dilakukan
Grafis, Metafora,
eskpresi
Dalam pandangan Van Dijk, segala teks bisa dianalisis dengan menggunakan elemen tersebut. Meskipun terdiri atas berbagai elemen, semua elemen tersebut merupakan suatu kesatuan, saling berhubungan dan mendukung satu sama lainnya.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa analisis Teun A. Van Dijk mengenai beberapa ulasan diatas yakni Van Dijk lebih dominan pada studi mengenai rasialisme dalam menganalisis sebuah wacana. Contohnya dapat dilihat dari percakapan sehari-hari, wawancara kerja , rapat guru, debat di parlemen, propaganda politik, periklanan, artikel ilmiah, editorial, berita, foto, film, dan lain-lain.
1.      Teori Kognisi Sosial Teun A. Van Dijk
Dari begitu banyak model analisis wacana yang diintoduksikan dan dikembangkan oleh beberapa ahli, model Van Dijk adalah model yang paling banyak dipakai. Hal ini mungkin disebabkan karena Van Dijk menformulasikanelemen-elemen wacana, sehingga bisa dipakai secara praktis. Model yang dipakai oleh van Dijk ini sering disebut sebagai “kognisi sosial” (Eriyanto 2001:221). Menurut Van Dijk, penelitian atas wacana tidak cukup hanya didasarkan pada analisis teks semata, karena teks hanya hasil dari suatu praktik produksi yang harus juga diamati.
Di sini harus dilihat juga bagaimana suatu teks diproduksi. Proses produksi itu melibatkan suatu proses yang disebut sebagai kognisi sosial. Teks dibentuk dalam suatu praktik diskursus, suatu praktik wacana. Di sini ada dua bagian, yaitu teks yang mikro yang merepresentasikan suatu topik permasalahan dalam berita, dan elemen besar berupa struktur sosial. Van Dijk membuat suatu jembatan yang menghubungkan elemen besar berupa struktur sosial tersebut dengan elemen wacana yang mikro dengan sebuah dimensi yang dinamakan kognisi sosial. Kognisi sosial tersebut mempunyai dua arti. Di satu sisi ia menunjukkan bagaimana proses teks tersebut diproduksi oleh wartawan atau media, di sisi lain ia menggambarkan nilai-nilai masyarakat  itu menyebar dan diserap oleh kognisi wartawan dan akhirnya digunakan untuk membuat teks berita (Eriyanto 2001:222).
Dalam buku Eriyanto, Van Dijk melihat bagaimana struktur sosial, dominasi, dan kelompok kekuasaan yang ada dalam masyarakat dan bagaimana pikiran dan kesadaran membentuk dan berpengaruh terhadap teks tertentu. Wacana oleh Van Dijk digambarkan mempunyai tiga dimensi  teks, kognisi sosial, dan konteks sosial. Inti analisis Van Dijk adalah menggabungkan ketiga dimensi wacana tersebut ke dalam satu kesatuan analisis. Dalam dimensi teks yang pertama, yang diteliti adalah bagaimana struktur teks dan strategi wacana yang dipakai untuk menegaskan suatu tema tertentu. Pada level kognisi sosial dipelajari proses produksi teks berita yang melibatkan kognisi individu dari wartawan. Sedangkan aspek ketiga mempelajari bangunan wacana yang berkembang dalam masyarakat akan suatu masalah. Ketiga dimensi ini merupakan bagian yang integral dan dilakukan secara bersama-sama dalam analisis Van Dijk (Eriyanto 2001:225).
  1. Dimensi Teks
Van Dijk membagi struktur teks ke dalam tiga tingkatan. Pertama, struktur makro. Ini merupakan makna global dari suatu teks yang dapat diamati dengan melihat topik atau tema yang dikedepankan dalam suatu berita. Kedua, superstruktur. Ini merupakan struktur wacana yang berhubungan dengan kerangka atau skema suatu teks, bagaimana bagian-bagian teks tersusun ke dalam berita secara utuh. Ketiga,struktur mikro adalah makna wacana yang dapat diamati dari bagian  kecil dari suatu teks yakni kata, kalimat, parafrase dan lain-lain.  Meskipun terdiri atas berbagai elemen, semua elemen tersebut merupakan satu kesatuan, saling berhubungan dan mendukung satu sama lainnya.
Makna global dari suatu teks (tema) didukung oleh kerangka teks dan baru kemudian pilihan kata dan kalimat yang dipakai. Kita bisa membuat pemberitaan tentang demonstrasi mahasiswa terhadap isu kenaikan  premium. Misalnya, Koran A mengatakan bahwa aksi ini terjadi karena kekecewaan mahasiswa dan masyarakat  terhadap kenaikan harga Premium  semata tanpa ada motif atau tuntutan yang lain.Tema ini akan didukung dengan skematik tertentu.
Misalnya dengan menyusun cerita yang mendukung gagasan tersebut. Media tersebut juga akan menutupi fakta tertentu dan hanya akan menjelaskan peristiwa itu semata pada masalah  premium. Pada tingkat yang lebih rendah, akan dijumpai pemakaian kata-kata yang menunjuk dan memperkuat pesan bahwa demonstrasi tersebut semata kasus kenaikan harga. Semua teks dipandang Van Dijk mempunyai suatu aturan yang dapat dilihat sebagai sebuah piramida.  Makna global dari suatu teks didukung oleh kata, kalimat, dan proposisi yang dipakai. Pernyataan atau tema pada level umum didukung oleh pilihan kata, kalimat, atau retorika tertentu. Pemakaian kata, kalimat, proposisi, retorika tertentu oleh media dipahami Van Dijk sebagai bagian dari strategi wartawan.
a.    Struktrur makro (thematic structure)
Struktur makro merupakan makna global sebuh teks yang dapat dipahami melalui topiknya. Topik direpresentasikan ke dalam suatu atau beberapa kalimat yang merupakan  gagasan utama pokok wacana.
b.   Superstruktur (superstructure)
Superstruktur merupakan struktur yang digunakan untuk mendeskripsikan semata, di mana keseluruhan topik atau isi global berita diselipkan. Superstruktur ini mengorganisikan topik dengan cara menyusun kalimat atau unit-unit beritanya berdasarkan urutan atau hiraki yang diinginkan. Teks atau wacana umumnya mempunyai skema atau alur dari pendahuluan sampai akhir. Alur tersebut menunjukkan bagaimana bagian-bagian dalam teks disusun dan diurutkan sehingga  membentuk kesatuan arti. Meskipun mempunyai bentuk dan skema yang beragam, berita umumnya mempunyai dua kategori skema besar.
Pertama, summary yang biasanya ditandai dengan dua elemen yakni judul dan lead. Elemen skema ini merupakan elemen yang dipandang  paling penting. Judul umumnya menunjukkan tema yang ingin ditampilkan oleh wartawan dalam pemberitaannya. Lead umumnya sebagai pengantar ringkasan apa yang ingin dikatakan sebelum masuk dalam isi berita secara lengkap. Kedua, story yakni isi berita secara  keseluruhan. Isi berita ini juga mempunyai dua subkategori. Yang pertama berupa situasi yakni proses atau jalannya peristiwa, sedang yang kedua komentar yang ditampilkan dalam teks.
c.    Struktur Mikro
Struktur mikro adalah struktur wacana itu sendiri yang terdiri atas beberapa elemen, yaitu:
1.      Elemen sintaksis
Elemen sintaksis merupakan salah satu elemen penting yang dimaanfaatkan untuk mengimplikasikan ideologi. Dengan kata lain, melalui struktur sintaksis tertentu, pembaca dapat menangkap maksud yang  ada dibalik kalimat-kalimat dalam berita. Melalui struktur sintaksis, wartawan dapat menggambarkan aktor atau peristiwa tertentu secara negatif maupun positif.
a.       Koherensi
Koherensi adalah pertalian atau jalinan antarakata, atau kalimat dalam teks, Dua  buah kalimat yang menggambarkan fakta yang berbeda dapat dihubungkan sehingga tampak koheren.
b.      Koherensi Kondisional
Koherensi Kondisianal diantaranya ditandai dengan pemakian anak kalimat sebagai penjelas. Di sini ada dua kalimat,di mana kalimat kedua adalah penjelas atau keterangan dari proposisi pertama, yang dihubungkan dengan kata hubung konjungsi, seperti “yang” atau “dimana”. Kalimat kedua fungsinya hanya sebagai penjelas (anak kalimat), sehingga ada atau tidak anak kalimat itu,tidak akan mengurangi arti kalimat. Anak kalimat itu menjadi cermin kepentingam komunikator karena ia dapat memberi keterangan yang baik/buruk terhadap suatu pertanyaan.
c.       Koherensi pembeda
Jika koherensi kondisional berhubungan dengan pertanyaan bagaimana dua peristiwa dihubungkan/dijelaskan. Koherensi pembeda berhubungan dengan pertanyaan, bagaimana dua buah peristiwa atau fakta itu hendak dibedakan.
d.      Pengingkaran
Elemen wacana pengingkaran adalah bentuk praktik wacana yang menggambarkan bagai mana wartawan menyembunyikan apa yang anggin diekpresikan secara amplisit. Penginakaran ini menunjukkan seolah wartawan menyetujui sesuatu, pahal ia tidak setuju dengan memberikan argumentasi atau fakta yang menyangkal persetujuannya tersebut.


e.       Bentuk kalimat
Bentuk kalimat adalah segi sintaksis yang berhubungan dengan cara berpikir logis, yaitu prinsip kausalitas. Di mana ia menyatakan apakah A yang menjelaskan B, atau B yang menjelaskan A. Logika kausalitas ini jika diperjemahkan ke dalam bahasa menjadi susunan objek (diterangkan) dan predikat (menerangkan). Bentuk lain adalah dengan pemakian urutan kata-kata yang mempunyai dua fungsi sekaligus. Pertama, menekankan atau menghilangkan dengan penempatan dan pemakian kata atau frase yang mencolok dengan menggunakan pemakian  semantik. Yang juga penting dalam sintaksis selain bentuk kalimat adalah posisi proposisi dalam kalimat.
Bagaimana  proposisi-proposisi diatur dalam satu rangkaian kalimat. Termasuk ke dalam bagian bentuk kalimat ini adalah apakah berita itu memakai bentuk  deduktif atau induktif.. Deduktif  adalah bentuk penulisan kalimat dimana inti kalimat (umum) ditempatkan di bagian mukak, kemudian disusul dengan keterangan tambahan (khusus). Sebaliknya, bentuk induktif adalah bentuk penulisan di mana inti kalimat ditempatkan di akhir setelah keterangan tambahan.
f.       Kata Ganti
Elemen kata ganti merupakan elemen untuk memanipulasi bahasa dengan menciptakan suatu komunitas imajinatif. Kata ganti merupakan alat yang dipakai oleh komunikator untuk menunjukkan di mana posisi seseorang dalam wacana. Dalam mengungkapkan sikapnya, seseoarang dapat menggunakan “kami” atau “saya” yang menggambarkan bahwa sikap tersebut merupakan sikap resmi komunikator. Namun, ketika menggunakan kata ganti “kita”, sikap tersebut sebagai representasi dari sikap bersama dalam suatu komunitas tersebut. pemakaian kata ganti yang jamak seperti “kita”  atau “kami”.
2.      Elemen Semantik (makna lokal)
Elemen semantik ini sangat erat hubunganya dengan elemen leksikon dan sintaksis sebab penggunaan  leksikon dan struktur sintaksis tertentu dalam berita dapat memunculkan makna tertentu. Berikut ini adalah unsur-unsur wacana yang tergolong ke dalam elemen semantik.
a.       Latar
Latar merupakan bagian berita yang dapat mempengaruhi semantik (arti) yang ingin  ditampilkan. Latar dapat menjadi alasan pembenar gagasan yang diajukan dalam suatu teks (Eriyanto, 2006.235). oleh karena itu, latar teks merupakan elemen yang berguna karena dapat membongkar apa maksud yang inggin disampaikan oleh wartawan. Latar peristiwa itu dipakai untuk menyediakan dasar hendak ke mana teks dibawah.
b.      Detil
Elemen wacana detil berhubungan dengan kontrol informasi yang ditampilkan seseorang (Eriyanto, 2006: 238). Detil yang lengkap dan panjang merupakan penonjolan yang dilakukan secara sengaja untuk menciptakan citra tertentu kepada khalayak. Detil yang lengkap itu akan dihilangkan kalau berhubungan dengan sesuatu yang menyangkut kelemahan atau kegagalan komunikator.
c.       Maksud
Elemen wacana maksud hampir sama dengan detil, hanya saja  elemen maksud meliat informasi yang menguntungkan komunikator akan diuraikan secara eksplisit dan jelas. Sebaliknya, informasi yang merugikan akan diuraikan secara tersamar, implisit, dan tersembunyi.
d.      Pranggapan
Elemen wacana pranggapan merupakan pertanyaan yang digunakan untuk mendukung makna suatu teks. Pranggapan adalah upaya mendukung pendapat dengan memberikan premis yang dipercaya kebenarannya. Pranggapan hadir dengan pernyataan yang dipandang terpercaya sehingga tidak perlu dipertanyakan.
3.      Elemen leksikon
Elemen leksikom menyangkut pemilihan diksi. Pemilihan diksi telah diketahui dapat mengeskspresikan idiologi maupun persuai, sebagaimana yang terjadi pada “terrorist” dan “freedom  fighter”. Bagaimana aktor yang sama digambarkan dengan dua diksi yang berbeda berimplikasi pada pemahaman pembaca tenteng aktor tersebut.
4.      Elemen Retorik
Elemen ritorik menyangkut penggunaan repetisi, alitersi, metafora yang dapat berfungsi sebagai “idiologi control” manakala sebuah informasi yang kurang baik tentang aktor tertentu dibuat kurang mencolok sementara informasi tentang aktor lain ditekankan. Dengan kata lain, retorik ini digunakan untuk memberi penekanan posifif atau negatif terhadap aktor atau peristiwa dalam berita.
a.       Grafis
Elemem ini  merupakan bagian untuk memberikan apa yang ditekankan atau ditonjolkan (yang berarti dianggap penting) oleh seseorang yang dapat diamati dari teks. Dalam berita elemen grafis ini biasanya muncul lewat bagian tulisan yang dibuat berbeda dibandingkan tulisan  lain, seperti pemakian huruf tebal, huruf miring, garis bawah, huruf dengan ukuran lebih besar,termasuk pemakian caption, raster, grafik, gambar, foto dan tabel untuk mendukung pesan. Pemakian angka-angka dalam berita diantaranyadigunakan untuk menyugestikan kebenaran, ketelitian, dan posisi dara suatu laporan.
  1. Konteks Sosial
Dimensi ketiga analisis Van Dijk adalah analisis sosial atau konteks sosial wacana adalah wacana yang berkembang dimasyarakat, sehingga untuk meneliti teks perlu dilakukan intertekstual dengan meneliti wacana tentang suatu hal di produksi dan di kontruksi dalam masyarakat . Menurut Van Dijk dalam analisis mengenai masyarakat adadua poin yang paling penting :
1.    Praktik Kekuasaan : Van Dijk mendefinisikan kekuasaan tersebut sebagai kepemilikan yang dimiliki  oleh suatu kelompok (atau anggotanya), Satu kelompok untuk mengontrol kelompok (atau kelompok) dari kelompok lain. Kekuasaan ini biasanya didasarkan pada kepemilikan atas sumber sumber yang bernilai seperti uang,status dan pengetahuan. Selain bersifat control yang bersifat langsung secara fisik kekuasaan itu di pahami Van Dijk juga berbentuk persuasif. Analisa wacana memberikan perhatian yang besar terhadap dominasi.
2.    Akses mempengaruhi Wacana :  Analisis Van Dijk memberi perhatian yang besar pada akses, bagaimana akses diantara masing-masing kelompok dalam masyarakat. Kelompok elit akses memiliki akses yang lebih besar di bandingkan kelompok yang tidak berkuasa.
Contoh penerapan analisis wacana Teun A. Van Dijk
Analisis Wacana Model Van Dijk Berita Kasus Century Di Surat Kabar Media Indonesia Edisi 22 Januari 2013
HAL YANG DIAMATI ELEMEN
Struktur Makro
(Tematik) Topik : KPK memeriksa saksi perdana yang dianggap tahu seputar proses pemberian FPJP (Fasilitas Pendanaan Jangka Pendek) terkait penyidikan kasus Century
Superstruktur
(Skematik) Judul : KPK Periksa Saksi Kunci Kasus Century
Teras berita (Lead) : Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memeriksa mantan direktur pada direktorat Pengawasan Bank 1 BI,, Zaenal Abidin , terkait kasus dugaan korupsi dana talangan Bank Century.
Struktur Mikro
a.Semantik
HAL YANG DIAMATI Detil : Pada Intinya Zaenal menilai Bank Century tidak layak menerima bantuan FPJP. Alasannya, Bank Century memiliki persoalan likuiditas akibat penarikan dana besar-besaran (rush). Selain itu, Century juga tergolong insolvent (tak mampu bayar) karena dari pemeriksaan yang dilakukan, rasio kecukupan modal (CAR) bank hanya 2,02 %.
ELEMEN
b. Sintaksis Bentuk Kalimat : Kalimat aktif, kalimat langsung, dan paragraph deduktif.
Kata ganti : Zaenal merupakan saksi perdana yang diperiksa terkait penyidikan kasus Century. Dia dianggap tahu seputar proses pemberian FPJP untuk bank Century.
Koherensi : Selain Zaenal, KPK juga memanggil Pengawas Bank Madya Senior BI, Pahla Santoso.
Pengingkaran : Padahal, aturan BI, CAR harus minimal 8 %. Meskipun Zaenal menyarankan Century tak layak mendapatkan FPJP, permohonan dari Century justru dipenuhi
c. Stilistik Pendapat itu ia tuangkan dalam catatan menjawab surat Bank Century
No.638/Century/D/X/2008 tertangga 30 Oktober 2008 kepada Direktorat Pengelolaan Moneter, yang tembusannya disampaikan kepada Direktorat Pengawasan Bank 1 BI. Pada intinya, Zaenal menilai bahwa Bank Century tak layak menerima bantuan FPJP.
d. Metafora/Retoris –
HASIL PENELITIAN
1. Level Teks, Penulisan berita seputar kasus Century di Media Indonesia mengarah pada perspektif politik yang dibingkai dengan kekuatan argumentasi yang lugas dan tegas.
2. Level Kognisi Sosial, kognisi wartawan Media Indonesia menggunakan skema peristiwa dan skema peran.
3. Level Konteks Sosial, wacana yang berkembang di masyarakat terkait pengaruh pemberitaan kasus bailout Bank Century di Media Indonesia memberikan pengaruh positif bagi masyarakat untuk lebih kritis terhadap pemerintah.
Sumber:
Eriyanto. 2011. Analisis Wacana Pengantar Analisis Teks Media. Yogyakarta: LKiS

Tidak ada komentar:

Posting Komentar